
BEBERAPA hari terakhir beredar isu di masyarakat mengenai dugaan pembangunan sirkuit di kawasan lereng Gunung Ciremai, tepatnya di sekitar Arunika. Isu tersebut berkembang liar dan memunculkan kekhawatiran publik terkait potensi kerusakan lingkungan dan pelanggaran kawasan konservasi.
Berdasarkan klarifikasi lapangan, kegiatan yang dilakukan di lokasi tersebut ternyata bukan pembangunan sirkuit, melainkan penataan kawasan melalui penebangan tanaman liar jenis Kaliandra yang akan diganti dengan tanaman khas Jawa Barat dan Gunung Ciremai seperti Jamuju, Trembesi, dan Beringin. Lokasi yang dimaksud bukan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, melainkan di lahan milik pribadi Puspita Cipta Group.
Adapun akses jalan yang ramai disebut sebagai sirkuit pada faktanya merupakan jalan distribusi bibit dan akses menuju Pesantren Daarut Tauhid dengan sistem satu pintu, menggunakan paving block demi menjaga daya resap air. Secara teknis, kontur wilayah yang curam juga tidak memungkinkan kawasan tersebut memenuhi standar nasional sebagai sirkuit.
Tulisan ini penting untuk meluruskan empat hal. Pertama, tentang informasi keliru dan menyesatkan terkait isu pembangunan sirkuit. Kedua, menegaskan bahwa kegiatan di lokasi tersebut dilakukan dengan memperhatikan aspek ekologis, termasuk pembangunan drainase untuk mencegah erosi dan pergerakan tanah.
Ketiga, menjaga kejernihan ruang publik dari framing yang tidak berbasis data dan berpotensi merugikan pihak tertentu. Keempat, mengajak masyarakat dan media untuk mengedepankan verifikasi lapangan dan dialog terbuka.
Isu sirkuit ini berkembang bukan karena fakta lapangan, tetapi karena asumsi yang dibangun tanpa data. Lokasi tersebut bukan kawasan taman nasional dan secara teknis tidak memenuhi syarat sebagai sirkuit. Karena itu, akses jalan yang dibangun juga bukan untuk balapan, melainkan untuk distribusi bibit dan akses pesantren. Itu pun menggunakan paving block agar tetap ramah lingkungan.
Secara historis, pemilik Arunika dan lahan di sekitarnya merupakan pengusaha lokal yang peduli terhadap alam dan umat. Usaha-usahanya dijalankan sesuai peraturan dan mampu menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja di bawah naungan Puspita Cipta Group.
Lebih lagi, rekam jejaknya di organisasi keumatan seperti GP Ansor, KAHMI, dan Nahdlatul Ulama (NU), sangat tidak masuk akal jika kemudian dituduh mengabaikan kelestarian lingkungan.
Berdasar fakta lapangan di atas, semua pihak harus menyikapi setiap isu dengan kepala dingin, saring sebelum share, membuka ruang dialog, dan berbicara berdasarkan data, bukan asumsi. Termasuk para pihak yang menyebarkan informasi harus mengedepankan data objektif dan berimbang. []
Penulis: Muhaemin (Cak Imin); Ketua PC GP Ansor Kabupaten Kuningan





Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.