KUNINGAN – Seorang anak asal Kecamatan Ciwaru, ARA (4), yang mengidap hidrosefalus disertai lumpuh otak dan stroke sangat memimpikan kesehatannya pulih. Selain membutuhkan dukungan biaya, pihak keluarga berharap bantuan moril Bupati Kuningan dan Gubernur Jawa Barat.

Diah Rosdiana, ibunda sang anak menerangkan bahwa Bupati Kuningan sudah mengetahui kondisi anaknya. Bantuan dari Pemkab Kuningan melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat sudah ia terima. Bahkan, Camat Ciwaru beserta istrinya dan pemerintah desa setempat sudah datang melihat kondisi dan membantunya.

“Pak Bupati sudah pernah telpon video dan memberikan dukungan. Kami sangat berharap Pak Bupati mampir dan melihat ke sini,” tuturnya.  

Menurutnya, kedatangan orang nomor satu di Kuningan itu bisa menambah semangat keluarga dalam mengurus putra bungsunya. Dua tahun lebih pulang pergi, bahkan menginap berbulan-bulan di rumah sakit, membuatnya hampir putus asa. “Kami juga tahu Pak Bupati atau Ibu pasti sibuk,” tuturnya.

Tidak hanya Bupati, pihaknya juga sangat merindukan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau KDM. Menurutnya, anaknya sering kegirangan dan sangat gembira ketika melihat video KDM di rumahnya. Istilah “Bapak Aing” yang melekat pada diri KDM sering diulang-ulang oleh anaknya dalam keadaan sakit.

‘Si dede (anaknya) gembira banget kalau melihat Pak Dedi. Teriak-teriak mengucapkan Bapak Aing. Pakai baju juga ingin yang ada gambar KDM-nya. Kalau dulu sambil lari-lari, sekarang sambil tiduran saja,” ungkapnya.

Harapan untuk bisa menjalani terapi stroke sangat besar. Pihaknya tidak kuat menahan tangis ketika anaknya bertanya, kaki dede kenapa sih, engga bisa berdiri?. Ia berharap, jika trapi stroke bisa dijalankan dan anaknya sembuh, tahap berikutnya akan fokus mengobato epilepsi.

“Alhamdulillah kata dokter kista di kepalanya sudah tidak ada. Sekarang masih harus kontrol untuk ngecek bekas operasi dan terapi stroke. Tapi untuk terapi di wilayah sini tidak bisa pakai BPJS, harus ke rumah sakit,” tuturnya.

‎Diah mengaku hanya seorang diri mengurus anaknya sedikit dibantu ibu dan anak pertamanya. Suaminya harus bekerja di Purwakarta untuk menambah biaya pengobatan. Sedangkan waktu anak pertamanya terbatas karena masih sekolah di SMP setempat.

“Pernah ditemani anak pertama dua bulan di Cirebon sampai hampir tidak bisa sekolah lagi. Alhamdulillah dibantu Bu Kuwu dan pengertian dari pohak sekolah, si aa masih bisa lanjut belajar,” ungkapnya.

ARA merupakan anak dari pasutri, Utarkani dan Diah Rosdiana. Ia diketahui mengidap penyakit kista di kepala ketika usia 2 tahun 7 bulan setelah mengalami kejang dan penurunan kesadaran. Selama dua tahun lebih, ARA harus menjalani berbagai pemeriksaan medis di sejumlah fasilitas kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan di Kunngan dan Cirebon. (Icu)