JAKARTA — Jarak ribuan kilometer antara kaki Gunung Ciremai dan hamparan tanah Sumatra seolah meluruh pada awal pekan ini. Di kantor Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia, sebuah angka yang cukup mencolok, Rp.800.246.029,- diserahkan sebagai mandat kemanusiaan. Uang sebanyak itu bukanlah hibah perusahaan raksasa, melainkan akumulasi “koin” empati dari rakyat Kabupaten Kuningan untuk para penyintas banjir hidrometeorologi di Aceh dan Sumatra.

Wakil Bupati Kuningan, Hj. Tuti Andriani, yang menyerahkan langsung donasi tersebut, menegaskan bahwa ratusan juta rupiah itu adalah manifestasi dari “empati kolektif”. Baginya, solidaritas warga Kuningan telah melampaui sekat-sekat administratif dan geografis.

Dalam pidatonya, Tuti menyebut bahwa bencana besar di ujung barat Indonesia tersebut adalah pengingat keras akan kerapuhan manusia di hadapan alam. Namun, di balik duka itu, terselip pesan tentang pentingnya menjaga ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan kebangsaan.

“Angka ini bukan hanya nominal dalam laporan keuangan. Ini adalah wujud konkret dari cinta kasih, kepedulian, dan keikhlasan masyarakat Kuningan. Bencana di Sumatra dan Aceh mengingatkan kita bahwa kita adalah satu tubuh sebagai bangsa Indonesia,” ujar Tuti dengan nada haru.

Dana sebesar 800 juta rupiah lebih itu terkumpul dari berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari iuran sukarela para Aparatur Sipil Negara (ASN), donasi dari dunia usaha, lembaga pendidikan, hingga sumbangan perorangan warga yang menyisihkan sisa uang belanja mereka. Gerakan ini membuktikan bahwa di tengah himpitan ekonomi yang kian kompleks, semangat gotong royong di Kota Kuda masih tumbuh subur.

Penyaluran dana melalui BAZNAS RI dipilih bukan tanpa alasan. Pemerintah Kabupaten Kuningan memandang lembaga ini memiliki jaringan distribusi yang paling siap menjangkau pelosok-pelosok wilayah terdampak yang sulit diakses.

Ketua BAZNAS RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, menyambut hangat “tangan” dari Kuningan tersebut. Menurutnya, fase tanggap darurat di wilayah terdampak memang telah usai, namun masa pemulihan (recovery) justru merupakan palagan yang lebih berat. Dana dari Kuningan ini direncanakan akan segera dikonversi menjadi pembangunan fisik dan pemberdayaan ekonomi.

“Fokus kami sekarang adalah membangun Hunian Sementara (Huntara) dan mushola sementara. Mengingat sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan, warga sangat membutuhkan ruang ibadah untuk salat tarawih,” ungkap Noor Achmad.

Selain infrastruktur ibadah, BAZNAS RI juga berkomitmen memulihkan layanan pendidikan yang sempat lumpuh. Seragam, buku, hingga bangunan sekolah darurat menjadi prioritas agar anak-anak di Aceh dan Sumatra tidak kehilangan masa depan mereka. Tak ketinggalan, pelatihan UMKM bagi warga yang kehilangan mata pencaharian akibat banjir juga disiapkan agar mereka bisa kembali berdikari.

Langkah yang diambil BAZNAS dan Pemerintah Kabupaten Kuningan ini disebut Noor Achmad sebagai teladan bagi daerah lain di Indonesia. Di saat daerah seringkali hanya fokus pada masalah internal masing-masing, Kuningan menunjukkan bahwa kepedulian terhadap bencana tidak boleh terhenti di batas kabupaten atau provinsi.

Solidaritas ini menjadi catatan penting di penghujung tahun 2025. Bahwa di balik hiruk-pikuk pembangunan dan dinamika politik, masih ada ruang luas bagi rasa kemanusiaan universal. Warga Kuningan telah mengirimkan pesan kuat ke Sumatra: bahwa mereka tidak sendirian menghadapi lumpur dan sisa banjir, karena ada doa dan dukungan nyata yang mengalir dari Jawa Barat.

Donasi 800 juta rupiah ini mungkin tidak akan menghapus seluruh trauma akibat bencana, namun setidaknya ia akan menjadi fondasi bagi berdirinya tiang-tiang mushola dan dinding-dinding rumah sementara, tempat para penyintas kembali merajut harapan di tahun baru. (ali)