Cikalpedia
”site’s ”site’s
Opini

BENCANA TERUS TERJADI—MITIGASI KONTINJENSI, APA KABAR?

Agus Mauludin (paling kanan)

Pelajaran dari Longsor Desa Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat

Bencana seolah tak pernah absen dari kalender negeri ini.
Banjir datang rutin, longsor menyusul, kekeringan bergilir, gempa mengintai.
Yang berubah hanya lokasi dan jumlah korban. Polanya nyaris selalu sama.

Setiap bencana hampir selalu ditutup dengan kalimat klasik: “Ini bencana alam.”
Padahal alam bekerja sesuai hukumnya.
Yang kerap abai justru manusianya—kebijakan setengah hati, pengawasan longgar, serta perencanaan yang kalah cepat dari kepentingan.

Mitigasi terlalu sering berhenti di dokumen.
Peta rawan bencana tersedia, namun izin tetap terbit.
Kajian risiko disusun, tetapi alih fungsi lahan terus berjalan.
Edukasi kebencanaan digaungkan, namun tak pernah benar-benar menjadi budaya.

Kontinjensi pun kerap hadir setelah kejadian.
Rencana darurat memang ada, tetapi jarang diuji.
Koordinasi lintas lembaga gagap di menit-menit krusial.
Logistik bergerak ketika kamera sudah menyala.

Pada akhirnya, masyarakat kembali menjadi pihak paling rentan:
kehilangan rumah, mata pencaharian, bahkan nyawa
sementara perdebatan soal siapa yang lalai dan siapa yang abai perlahan menguap.

Jika bencana terus berulang, pertanyaannya sederhana namun tajam:
apakah kita benar-benar menghadapi bencana alam,
atau sedang menuai kegagalan tata kelola?

Mitigasi dan kontinjensi seharusnya bekerja sebelum sirene berbunyi,
bukan sekadar menjadi jargon di atas kertas.
Jika tidak, bencana berikutnya hanya soal waktu
dan kita akan kembali bertanya hal yang sama:
mitigasi, kontinjensi… apa kabar?

Baca Juga :  Golkar-PAN Sinyal Koalisi, Uji Ulang Duet Pilkada 2018

Related posts

Libur Nataru, Dinas PUPR Kuningan Tambal Jalan Wisata Pakai 60 Ton Hotmix

Cikal

Pemuda Muhammadiyah Perkuat Ketahanan Pangan Cilowa

Ceng Pandi

Kunjungan Kuningan – Cirebon Langkah Politik 2029? Begini Tanggapan Tim Anies

Ceng Pandi