CIREBON — Ruang kelas di Vokasi Cirebon Power pagi itu tampak berbeda. Deretan komputer menyala, layar-layar menampilkan lembar kerja digital, sementara para peserta menyimak dengan saksama instruksi pelatih. Mereka bukan peserta pelatihan biasa. Puluhan penyandang disabilitas dari berbagai wilayah di Kabupaten Cirebon mengikuti program pelatihan komputer dan literasi digital yang digagas melalui kolaborasi Vokasi Cirebon Power, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Cirebon, dan Relawan TIK Kabupaten Cirebon.

Program ini dirancang untuk menjawab tantangan dunia kerja yang kian terdigitalisasi. Kepala Disnaker Kabupaten Cirebon, Novi Hendrianto, mengatakan keterampilan digital kini menjadi prasyarat dasar di banyak sektor industri. Tanpa bekal itu, kelompok rentan berisiko semakin tertinggal.

“Kami ingin memastikan teman-teman penyandang disabilitas memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini. Pelatihan komputer dan literasi digital menjadi kunci agar mereka bisa bersaing secara setara di pasar kerja,” ujar Novi, Rabu (11/2/2026).

Materi yang diberikan tidak berhenti pada pengenalan perangkat komputer. Peserta dilatih mengoperasikan aplikasi perkantoran, mengelola dokumen digital, memahami dasar-dasar kerja daring, hingga membangun komunikasi profesional. Di sela sesi teknis, mereka juga mendapatkan pembekalan kesiapan kerja untuk menumbuhkan rasa percaya diri saat memasuki dunia industri.

Bagi Pemerintah Kabupaten Cirebon, pelatihan ini bukan program seremonial. Disnaker menargetkan adanya penempatan kerja dan pendampingan lanjutan setelah pelatihan selesai. “Kolaborasi ini menjadi kekuatan utama. Vokasi Cirebon Power memberikan dukungan fasilitas dan kurikulum vokasi, Relawan TIK menghadirkan pendampingan digital, sementara kami memastikan akses ke peluang kerja nyata,” kata Novi.

Inisiatif tersebut menarik perhatian sejumlah pemangku kepentingan, termasuk perwakilan Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Sosial, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI), Bappenas, hingga Kedutaan Besar Australia. Mereka meninjau langsung proses pelatihan di lokasi. Program ini dinilai berpotensi menjadi model pengembangan Unit Layanan Disabilitas (ULD) ketenagakerjaan di daerah lain.

Di sisi lain, Cirebon Power menyebut program ini sebagai bagian dari komitmen tanggung jawab sosial perusahaan. Manager CSR Cirebon Power, Hafid Saptandito, mengatakan pelatihan komputer untuk penyandang disabilitas merupakan program perdana yang digelar di Vokasi Cirebon Power.

“Ini bentuk inklusivitas vokasi kami. Selama ini banyak pelatihan yang kami selenggarakan untuk masyarakat sekitar. Kali ini kami membuka ruang bagi rekan-rekan difabel untuk belajar bersama,” ujar Hafid.

Menurut dia, perusahaan tidak ingin berhenti pada pelatihan dasar. Ke depan, penyandang disabilitas akan dilibatkan dalam kelompok-kelompok binaan yang telah berjalan, seperti digital printing, tata busana, hingga unit keterampilan lain yang sesuai dengan minat dan kemampuan peserta. “Nanti bisa masuk ke kelompok digital printing, jahit, atau yang lainnya,” kata Hafid.

Upaya ini menunjukkan pergeseran pendekatan dalam pemberdayaan disabilitas: dari sekadar bantuan sosial menuju penguatan kapasitas dan akses kerja. Pemerintah daerah menegaskan keberlanjutan program menjadi prioritas. Kabupaten Cirebon, kata Novi, ingin menempatkan diri sebagai rujukan nasional dalam pelayanan ketenagakerjaan inklusif.

“Kami tidak hanya ingin memberi kesempatan, tetapi memastikan teman-teman disabilitas benar-benar mandiri dan berdaya,” ujarnya.

Di tengah tuntutan transformasi digital, langkah kecil dari sebuah ruang kelas di Cirebon itu bisa menjadi pijakan penting menuju dunia kerja yang lebih setara. (frans)