
KUNINGAN – Klasemen pekan kedua kompetisi PFL 2 2026 menempatkan Proton FC di posisi puncak. Namun, bagi klub asal Kuningan ini, singgasana sementara tersebut bukanlah podium selebrasi, melainkan sebuah beban tanggung jawab yang baru saja dimulai.
Presiden Proton FC, Thony Indra Gunawan, memilih untuk tetap memijak bumi di tengah euforia keberhasilan timnya menyapu bersih poin di pekan awal. Baginya, memuncaki klasemen bukanlah sebuah garis finis yang harus dirayakan secara berlebihan.
“Alhamdulillah, kami bersyukur atas hasil di pekan kedua ini. Tapi kami melihat posisi di puncak klasemen sementara ini bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai amanah dan tanggung jawab besar,” ungkap Thony kepada media, Senin (4/5/2026).
Narasi yang dibangun Thony mencerminkan kedewasaan manajerial. Di tengah kerasnya persaingan futsal nasional, ia menyadari bahwa konsistensi jauh lebih berharga daripada ledakan performa sesaat. Fokus utama Proton FC saat ini, menurut Thony, adalah membangun identitas tim yang memiliki karakter kuat serta standar profesionalisme tinggi di setiap lini.
Ia menegaskan bahwa pencapaian ini adalah akumulasi kerja kolektif dari pemain, tim pelatih, manajemen, hingga militansi para suporter. “Capaian ini bukan hanya milik Proton FC, tapi milik semua pihak pemain, pelatih, manajemen, suporter, serta dukungan masyarakat dan insan futsal,” tambahnya.
Salah satu poin krusial yang mencuri perhatian dalam perjalanan Proton FC adalah keberanian mereka mengorbitkan putra daerah. Di balik performa impresif tim, terdapat kontribusi signifikan dari tiga talenta muda asal Kuningan yang menjadi tulang punggung tim:
- Reza Rizki Yana dari Kecamatan Kramatmulya yang menunjukkan dedikasi tinggi di lapangan.
- Baras Hensa asal Garawangi yang menjadi motor permainan.
- Nabil Dei Anugerah dari Kecamatan Pasawahan yang memberikan kontribusi positif bagi skema tim.
Kehadiran trio lokal ini membuktikan bahwa visi Proton FC tidak hanya mengejar gelar juara, tetapi juga menjadi inkubator bagi atlet-atlet potensial di wilayah Kuningan dan sekitarnya.
Lebih jauh, Thony memproyeksikan Proton FC sebagai motor penggerak ekosistem futsal yang sehat. Hal ini mencakup komitmen terhadap pembinaan usia muda serta upaya meningkatkan kualitas kompetisi di level nasional.
Kini, tantangan sesungguhnya bagi Proton FC adalah menjaga napas panjang hingga akhir musim. Thony memohon doa dan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat agar skuadnya tetap rendah hati dan bekerja keras demi menjaga tren positif ini. Dengan semangat “Kuningan Melesat”, harapan agar trofi juara berlabuh di tanah Kuningan kini bukan sekadar mimpi di siang bolong. ***
Penulis: Ali ‖ Editor: Ali




