
KUNINGAN – Setiap terjadi kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemeriksaan sampel makanan menjadi bagian penting untuk mengetahui penyebab dan jenis bakteri yang kemungkinan memicu keracunan.
Namun, Kabupaten Kuningan masih menghadapi keterbatasan dalam pemeriksaan sampel tersebut. Meski Labkesda Kuningan telah memiliki sejumlah peralatan laboratorium, ketersediaan reagen menjadi kendala sehingga pemeriksaan belum dapat dilakukan secara optimal dan sampel dalam kondisi tertentu masih perlu diperiksa di laboratorium yang memiliki fasilitas dan bahan pemeriksaan yang dibutuhkan, termasuk di Bandung.
Kepala Labkesda Kuningan, Wahyu Fitrina Handayani, mengakui bahwa peralatan laboratorium sebenarnya telah tersedia. Persoalannya, alat tersebut membutuhkan reagen agar dapat digunakan untuk pemeriksaan.
“Alat kami ada, cuma kami tidak ada reagennya,” ujarnya saat ditemui di kantor kerjanya, Kamis, (24/9/2026).
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pemeriksaan sampel makanan dalam kasus keracunan membutuhkan proses yang tidak sederhana. Sampel harus melalui tahapan pemeriksaan untuk mengetahui mikroorganisme atau bakteri yang menjadi penyebab.
Ia menjelaskan, pemeriksaan tidak bisa serta-merta memberikan hasil dalam waktu singkat. Sampel tertentu harus melalui proses filtrasi dan pembiakan terlebih dahulu sebelum dapat dianalisis lebih lanjut.
“Memang ada proses-prosesnya, harus difiltrasi dulu, dibiakkan dulu,” katanya.
Dalam pemeriksaan, laboratorium dapat mengidentifikasi kemungkinan keberadaan bakteri seperti E. coli, Salmonella, maupun mikroorganisme lainnya. Hasil pemeriksaan kemudian dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan untuk mengetahui tingkat kontaminasi dan potensi risikonya.
Wahyu menegaskan, keberadaan alat saja belum cukup untuk membuat Labkesda mampu menjalankan seluruh pemeriksaan secara mandiri. Reagen merupakan komponen penting dalam pengoperasian alat laboratorium.
“Kalau reagen itu ada disiapkan, otomatis alat pasti siap,” ujarnya.
Persoalan pengadaan reagen juga berkaitan dengan kebutuhan anggaran. Terlebih, sebagian besar reagen yang digunakan merupakan produk impor sehingga harganya sangat dipengaruhi nilai tukar dolar.
Menurutnya, perubahan harga tersebut harus diperhitungkan dalam analisis kebutuhan anggaran. Labkesda saat ini juga sedang berproses untuk memperkuat dasar penganggaran melalui regulasi daerah.
Ketersediaan kemampuan pemeriksaan di daerah menjadi semakin penting ketika terjadi kejadian luar biasa (KLB), termasuk kasus keracunan MBG.
Menurutnya, Labkesda Kuningan memiliki fungsi pemeriksaan berbasis manusia maupun lingkungan serta berkolaborasi dengan laboratorium kesehatan masyarakat tingkat pertama di puskesmas.
Untuk pemeriksaan yang membutuhkan kemampuan lebih tinggi, Labkesda tingkat 2 dapat mengambil peran. Sebaliknya, pemeriksaan yang dapat dilakukan di tingkat puskesmas tetap dikerjakan oleh laboratorium tingkat pertama.
“Jadi sifatnya kolaborasi,” kata Wahyu.
Ia mencontohkan, ketika terdapat pemeriksaan yang belum dapat dilakukan di tier 1, Labkesda dapat mengambil peran sesuai kemampuan yang dimiliki. Pola serupa juga dapat diterapkan dalam penanganan penyakit maupun kejadian yang membutuhkan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut.
Dengan demikian, penguatan ketersediaan reagen bukan hanya berkaitan dengan operasional laboratorium, tetapi juga menyangkut kesiapan daerah dalam merespons kasus kesehatan masyarakat.
Ketika kasus dugaan keracunan MBG terjadi, kemampuan pemeriksaan sampel secara cepat dan sesuai standar menjadi salah satu bagian penting untuk membantu mengidentifikasi penyebab serta menentukan langkah penanganan selanjutnya.





