KUNINGAN — Nama Agisna Yulistika kembali menjadi buah bibir, bukan karena ekspansi bisnisnya, melainkan karena misi kultural yang ia emban ke Negeri Sakura. Pedangdut yang populer dengan julukan Agis Pletok ini dijadwalkan bakal menggetarkan panggung Ina-shi Eki, Nagano, Jepang, pada 5 Mei 2026 mendatang. Kehadirannya di festival musik tersebut menandai babak baru bagi “diplomasi dangdut” yang digagas talenta muda asal Kuningan ini.

Penampilan Agis di Nagano bukanlah sebuah kebetulan tanpa preseden. Ini adalah kali kedua bagi sang woman entrepreneur tersebut menjajal selera telinga audiens internasional di Jepang. Dengan modal “goyangan pletok” yang ikonik dan suara khas yang matang, Agis seolah ingin menegaskan bahwa irama kendang dan cengkok dangdut memiliki daya pikat universal yang mampu meruntuhkan batas bahasa dan budaya.

“Ini menjadi kebanggaan tersendiri bisa kembali tampil di Jepang. Saya ingin terus memperkenalkan dangdut ke kancah global sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang unik,” ujar Agis, Jumat (24/4/2026).

Di balik gemerlap panggung, sosok Agisna adalah anomali di industri hiburan lokal. Di usia muda, ia berhasil membangun reputasi sebagai pengusaha perempuan yang tangguh di berbagai sektor, namun tak pernah kehilangan gairah untuk mengasah bakat seninya. Baginya, panggung musik di Jepang adalah ruang pembuktian bahwa profesionalisme bisnis dan karisma seni bisa berjalan beriringan tanpa harus saling menegasikan.

Konsistensi Agis dalam mengangkat musik dangdut ke panggung global merupakan langkah berani. Di saat banyak musisi lokal berkiblat ke Barat atau K-Pop, Agis justru setia pada akar budayanya, membawa warna Indonesia yang autentik ke hadapan publik Jepang yang dikenal sangat selektif dalam mengapresiasi karya seni asing.

Respons positif publik Jepang terhadap penampilan Agis sebelumnya menjadi sinyal bahwa dangdut kini mulai mendapatkan tempat di hati masyarakat internasional. Gaya panggungnya yang enerjik, interaktif, dan penuh karisma dianggap mampu merangkul penonton dari berbagai latar belakang budaya untuk larut dalam irama khas Nusantara.

Keberangkatan Agis ke Nagano nanti kian mengukuhkan posisinya bukan sekadar penyanyi, melainkan duta musik yang membawa marwah budaya Kuningan ke level dunia. Bagi publik di tanah air, khususnya di Jawa Barat, langkah Agis Pletok adalah pengingat bahwa musik rakyat Indonesia punya kelas tersendiri di panggung dunia, selama dibawakan dengan dedikasi dan profesionalisme yang tinggi. ***

Penulis: Ali ‖ Editor: Ali