KUNINGAN — Hujan yang turun hampir tanpa jeda sejak awal pekan lalu meninggalkan jejak panjang di Dusun I Pahing, Desa Cimulya, Kecamatan Cimahi, Kabupaten Kuningan. Di salah satu ruas jalan penghubung menuju SMP Negeri 1 Cimahi, material longsoran tanah dan bebatuan sempat menutup hampir seluruh badan jalan.


Pagi itu, Kamis (12/2/2026), suasana di lokasi tampak berbeda. Deru cangkul yang membentur tanah basah, suara sekop menggeser lumpur, serta teriakan kecil antarwarga terdengar bersahut-sahutan. Di antara mereka, terlihat aparat TNI dan Polri ikut membaur, tanpa jarak, tanpa sekat.


Babinsa Desa Cimulya, Sertu Edi Kurniadi mengatakan, pembukaan kembali akses ini tidak bisa ditunda terlalu lama. Bagi warga, terutama para siswa.


“Kami khawatir kalau dibiarkan, anak-anak makin kesulitan berangkat. Apalagi sekarang musim hujan, risiko longsor susulan masih ada,” kata Edi kepada wartawan.


Ia menyebutkan, gotong-royong ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari aparat desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga masyarakat sekitar. Tanpa alat berat, mereka mengandalkan peralatan seadanya. Namun, kerja bersama membuat pekerjaan berat itu terasa lebih ringan.

Hal senada disampaikan Bripka Tisna, Bhabinkamtibmas Desa Cimulya. Menurutnya, keterlibatan aparat dalam kegiatan semacam ini bukan sebatas tugas formal, tetapi bagian dari upaya menjaga kedekatan dengan warga.


“Kami turun langsung supaya masyarakat tahu, mereka tidak sendiri menghadapi situasi seperti ini,” ujarnya.


Menjelang siang, kendaraan roda dua mulai melintas perlahan. Beberapa pengendara sempat berhenti sejenak, menyapa warga yang masih bekerja. Tak sedikit yang mengucapkan terima kasih.


Kini, akses menuju SMPN 1 Cimahi kembali terbuka. Namun, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa wilayah perbukitan seperti Cimulya masih rawan bencana, terutama saat musim hujan.


Warga berharap, ke depan, pemerintah daerah tidak hanya hadir saat bencana terjadi, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan, seperti perbaikan drainase dan penguatan tebing rawan longsor. Sebab, bagi masyarakat di sana, jalan bukan hanya infrastruktur, tapi urat nadi kehidupan sehari-hari. (Ali)