Cikalpedia
”site’s
Kuningan

Atang Temukan Indikasi Mark-Up Program MBG di Kadugede

Pemerhati di Kuningan, Atang

Dengan volume produksi mencapai 2.320 paket setiap hari, selisih harga sekitar Rp3.250 per porsi bukanlah angka sepele. Jika kalkulasi tersebut akurat, terdapat potensi “dana gelap” sebesar Rp6,9 juta yang tidak jelas rimbanya dalam satu kali distribusi. Atang menilai temuan ini sangat ironis, sebab selisih biaya bahan baku justru lebih besar daripada margin keuntungan resmi dapur yang ditetapkan sekitar Rp2.000 per porsi. Fakta ini dianggap sebagai indikasi kuat yang mengarah pada dugaan penyelewengan dalam program nasional tersebut.

Selain persoalan finansial, efektivitas program di bulan suci Ramadan ini juga memanen kritik. Pembagian kudapan seperti singkong karamel pada pukul 10 pagi untuk dikonsumsi saat berbuka puasa dianggap tidak tepat sasaran secara kualitas pangan.

“Secara gizi mungkin mencukupi, namun secara logika konsumsi ini mubazir karena saat dimakan pada waktu Magrib, kondisi dan kesegaran makanan tentu sudah berubah,” ujar Atang.

Kondisi ini pun, menurut Atang, memperlihatkan lemahnya pengawasan dari Gugus Tugas tingkat kabupaten, camat, hingga koordinator lapangan yang ditugaskan mengawal program sejak dari dapur produksi. Atas dasar temuan tersebut, ia mendesak pemerintah daerah untuk segera melakukan audit investigatif terhadap pelaksanaan MBG di Kadugede agar program ini tidak sekadar menjadi lahan basah bagi oknum tertentu.

“Transparansi total menjadi harga mati agar hak gizi anak bangsa tidak terus-menerus dipangkas oleh kepentingan sepihak,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, redaksi masih berupaya mencari akses konfirmasi kepada pihak SPPG Kadugede serta instansi terkait guna memastikan perimbangan informasi. (ali)

Baca Juga :  Iip Serukan Jaga Ciremai di Hardiknas Kuningan