
KUNINGAN — Setelah tiga bulan “mengasingkan diri” dalam kawah candradimuka pemusatan latihan di Bandung dan Jakarta, Proton FC akhirnya pulang ke Kuningan. Namun, mereka tidak kembali dengan tangan kosong. Klub kebanggaan warga kaki Gunung Ciremai ini membawa satu komoditas yang mahal harganya dalam dunia olahraga professional yaitu optimisme buta untuk menjadi juara di Pro Futsal League (PFL) 2.
Target yang dipasang manajemen tidak main-main. Di tengah ketatnya persaingan futsal nasional yang akan dimulai pada 20 Maret 2026 di GOR Sabilulungan, Kabupaten Bandung, Presiden Proton FC, Thony Indra Gunawan, secara terbuka membidik podium tertinggi. Menurutnya, masa persiapan yang panjang telah membentuk mentalitas pemenang di dalam skuad.
“Target kami di PFL 2 adalah juara. Dengan persiapan yang sudah dilakukan selama tiga bulan dan materi pemain yang ada saat ini, kami sangat optimistis bisa bersaing di papan atas,” ujar Thony dengan nada tegas saat ditemui di Kuningan, Sabtu (4/4/2026)
Simfoni Senior dan Talenta ‘Garuda Muda’
Optimisme Thony memiliki fondasi yang cukup kokoh. Proton FC tidak hanya mengandalkan karisma Bambang Bayu Saptaji (BBS) atau kematangan Rangga Febrianto. Di barisan belakang dan sayap, mereka menyuntikkan “darah segar” yang baru saja mencicipi takhta juara internasional bersama Timnas U-19.
Nama-nama seperti Daffa, Robby, Andika, dan Ayasi kini berseragam Proton. Kehadiran kuartet “Garuda Muda” ini adalah kepingan puzzle yang krusial bagi Thony. Mereka membawa energi ledak dan dinamika permainan modern, sementara para senior berperan sebagai dirigen yang mengatur tempo serta mentalitas bertanding di saat-saat genting.
“Pemain senior seperti BBS dan Rangga diharapkan bisa menjadi pemicu sekaligus mentor bagi pemain muda. Kombinasi ini yang kami harapkan menjadi kunci permainan tim,” ungkap Thony. Skuad yang gemuk dengan 22 pemain ini akan segera dikerucutkan menjadi 18 nama terpilih pada 10 April mendatang sesuai regulasi kompetisi.
Membangun Piramida, Bukan Sekadar Tim
Satu hal yang membedakan visi Thony Indra Gunawan dengan pemilik klub daerah lainnya adalah investasi pada fondasi jangka panjang. Sembari memburu gelar juara musim ini, ia mulai menyusun ekosistem futsal lewat akademi berjenjang, mulai dari usia 10 tahun hingga kelompok elit U-19. Ini adalah upaya sadar Thony untuk memutus ketergantungan pada pemain instan dan menciptakan pabrik talenta sendiri dari rahim Kuningan.
Namun, di balik skema teknis dan taktis yang rapi, Thony menyadari bahwa timnya butuh “pemain keenam” di tribun penonton. Dukungan publik Kuningan dianggap sebagai bahan bakar non-teknis yang bisa menentukan napas tim saat harus melakoni seri kedua di Sukoharjo hingga babak grand final.
“Kami mohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Kuningan. Kami ingin memberikan yang terbaik dan membawa harum nama daerah di kancah nasional,” pungkas Thony.
Bagi Proton FC, PFL 2 bukan sekadar kompetisi, ini adalah panggung pembuktian visi besar Thony Indra Gunawan dalam menjadikan Kuningan sebagai episentrum baru futsal tanah air. (ali)




