
KUNINGAN — Pemerintah Kabupaten Kuningan mulai membuka pintu bagi dukungan yang lebih konkret terhadap ekosistem futsal daerah. Setelah melepas klub Proton FC yang akan berlaga di Pro Futsal League (PFL) 2, Bupati Kuningan H. Dian Rachmat Yanuar mengisyaratkan bahwa pemerintah daerah tidak akan lagi menutup mata terhadap mandeknya pemenuhan fasilitas latihan bagi para atlet.
Meski belum merinci secara teknis mengenai besaran anggaran maupun bentuk fisik bangunan yang akan digarap, Dian memastikan bahwa pihaknya akan segera menggelar koordinasi maraton dengan instansi teknis terkait.
“Nanti kita koordinasikan segera dengan Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar),” ujar Dian di Pendopo Kuningan, Sabtu (4/4/2026).
Menepis Hambatan Klasik Infrastruktur
Pada prinsipnya, Dian menegaskan bahwa pemerintah daerah siap menyokong penuh penguatan fasilitas olahraga. Namun, ia memberikan catatan tebal, seluruh pembangunan atau penyediaan sarana harus mengacu pada kebutuhan riil dan standar baku kompetisi nasional. Dukungan tersebut, lanjutnya, akan diupayakan secara bertahap agar tidak membebani postur APBD secara mendadak.
“Kami akan mencoba mendorong ini. Sepenuh hati tentu akan kita bantu,” katanya menambahkan.
Dian juga menyinggung pentingnya standardisasi dalam penyediaan fasilitas olahraga. Ia menilai, mustahil mengharapkan prestasi yang kompetitif di tingkat nasional jika para atlet masih berlatih di lapangan dengan fasilitas seadanya yang tidak sesuai dengan standar liga profesional.
“Akan kita siapkan sesuai standar. Itu yang akan kita support ke depannya,” tegas Dian.
Bukan Sekedar Karpet Merah
Pernyataan orang nomor satu di Kuningan ini terbaca sebagai sinyal awal yang cukup melegakan. Selama ini, minimnya infrastruktur olahraga berstandar nasional kerap menjadi batu sandungan utama bagi klub-klub daerah untuk berkembang melampaui level provinsi.
Meski realisasi janji ini masih harus melewati birokrasi dan koordinasi lintas dinas, komitmen yang dilontarkan Dian menjadi penanda penting. Setidaknya, perhatian pemerintah daerah terhadap olahraga kini mulai bergeser, tidak lagi sebatas memberikan tepuk tangan dan dukungan moral di pelepasan atlet, melainkan mulai menyentuh kebutuhan paling mendasar yaitu infrastruktur yang layak. (ali)




