
KUNINGAN – Riuh tepuk tangan yang memecah dinginnya malam di GOR Ewangga, Minggu (19/4/2026), bukan perayaan seremonial. Menjelang pukul 22.00 WIB, saat panitia Kejuaraan Kabupaten (Kejurkab) Pelajar Pencak Silat Piala Ketua IPSI Kuningan 2026 membacakan rincian klasemen, sebuah nama mencuat dengan dominasi yang nyaris mutlak yaitu SDN Unggulan Kuningan. Sekolah ini resmi mengukuhkan diri sebagai juara umum pertama, meninggalkan jejak medali yang melimpah di berbagai kelas tanding dan seni.
Panggung Kejurkab yang digelar selama dua hari tersebut seolah menjadi ajang unjuk gigi bagi para pesilat cilik yang bertanding dengan teknik dewasa. Di atas matras, SDN Unggulan Kuningan tidak datang untuk sekadar penggembira. Mereka pulang membawa tumpukan emas dari nomor tanding, tunggal, hingga ganda.
Salah satu narasi paling mengesankan datang dari Nasywa Qurrotu’ainin. Dengan ketenangan yang melampaui usianya, Nasywa menyapu bersih tiga nomor sekaligus yaitu emas di tanding kelas B putri usia dini, emas tunggal, serta emas ganda remaja. Langkahnya di gelanggang adalah perpaduan antara kelincahan fisik dan kecerdasan taktik yang sulit diredam lawan.
Dominasi serupa ditunjukkan oleh M. Hamzah Al Fatih yang tampil tak terbendung di kelas H putra serta nomor tunggal. Namun, sorotan paling terang jatuh kepada Alifa Fatya Naumi. Selain mengamankan emas di kelas E usia dini, Alifa dinobatkan sebagai pesilat terbaik dalam kejuaraan tersebut. Sebuah predikat prestisius yang menegaskan bahwa teknik SDN Unggulan berada di atas rata-rata peserta lainnya.
Pundi-pundi medali terus mengalir melalui Naura Khaira Lubna yang mengemas dua emas dan satu perak, disusul Nabhan Alhazn Hibfizi dengan satu emas dan satu perak. Tak ketinggalan, Hamiz Arzachel Nazhan, Salsabila Azahra Muspika, serta pasangan ganda Nabhan-Hamzah turut mempertebal klasemen dengan raihan perak yang krusial.
Di balik kemilau medali tersebut, tersimpan proses latihan yang spartan. Kepala SDN Unggulan Kuningan, Uus Susanto, menyadari bahwa prestasi di gelanggang silat adalah pantulan dari kedisiplinan di sekolah.
Baginya, pencak silat adalah media pembangunan karakter yang jauh lebih efektif daripada sekadar teori di ruang kelas. Anak-anak diajarkan bukan untuk menjadi jagoan, melainkan pesilat yang menghargai lawan dan memahami batas kekuatan diri sendiri.
“Keberhasilan ini adalaj kerja kolektif antara sekolah, pelatih, dan dukungan emosional orang tua yang menciptakan ekosistem prestasi yang sehat,” ujar Uus.
Kemenangan ini menjadi sinyal kuat bagi Kabupaten Kuningan bahwa pembinaan olahraga tradisional masih memiliki taring tajam di tingkat akar rumput. Bagi SDN Unggulan Kuningan, trofi juara umum ini bukanlah garis finis. Ini adalah pijakan awal bagi para pesilat muda tersebut untuk menatap level kompetisi yang lebih tinggi, membawa marwah pencak silat dari Kuningan ke panggung nasional yang lebih luas. (ali)




