
KUNINGAN – Kondisi bangunan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cimalaka di Desa Subang, Kecamatan Subang, memprihatinkan. Ajakan donasi pun tersebar untuk memperbaiki kondisi tersebut.
Sejumlah bagian bangunan sekolah, terutama atap, tampak mengalami kerusakan cukup parah dan membutuhkan perbaikan segera. Kerusakan tersebut bukan persoalan baru. Menurut Operator MI Cimalaka, Munawar Taufik, kerusakan berat pada bangunan sekolah telah berlangsung sekitar lima tahun.
Selama ini, pihak sekolah bersama guru, kepala sekolah, orang tua siswa, alumni, dan masyarakat sekitar berupaya melakukan perbaikan secara bertahap dengan mengandalkan swadaya.
“Kalau yang rusak parah itu sudah sekitar lima tahunan. Selama ini sedikit-sedikit diperbaiki, dari guru, kepala sekolah, dan orang tua,” ujar Taufik saat diwawancarai oleh Cikalpedia, Sabtu, (26/9/2026).
Upaya swadaya bahkan dilakukan dengan cara gotong royong. Sebagian orang tua siswa yang sehari-hari bekerja sebagai petani, pencari rumput, maupun pencari bambu dan kayu turut membantu sesuai kemampuan mereka. Tidak jarang tenaga untuk memperbaiki bangunan pun diberikan secara sukarela.
Kondisi dua ruang kelas saat ini menjadi perhatian utama. Bangunan yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar tersebut sudah diperkuat menggunakan bambu karena bagian konstruksinya mengalami kerusakan. Pihak sekolah khawatir kondisi tersebut membahayakan keselamatan siswa.
“Dua ruangan sudah parah sekali, sampai diperkuat ditopang dengan bambu. Kami khawatir kalau sampai menimpa anak-anak,” katanya.
Menurutnya, madrasah tersebut saat ini hanya memiliki empat ruang kelas dan satu ruang kantor. Karena keterbatasan ruangan, kelas 1 dan 2 digabung, begitu pula kelas 3 dan 4. Jumlah siswa tahun ini tercatat sebanyak 22 orang.
Keterbatasan kondisi bangunan disebut menjadi salah satu tantangan bagi sekolah untuk mempertahankan jumlah peserta didik. Ia menuturkan, sebagian orang tua memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah dasar lain karena khawatir terhadap kondisi bangunan MI Cimalaka.
Meski demikian, pihak sekolah tidak ingin menyerah. Berbagai upaya terus dilakukan agar bangunan sekolah dapat diperbaiki dan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung dengan aman dan nyaman.
Salah satu upaya terbaru adalah membuka donasi. Hingga saat ini, bantuan mulai berdatangan. Sejumlah kayu telah tersedia dan proses penebangan untuk kebutuhan perbaikan bangunan juga telah dilakukan.
“Alhamdulillah, dari donasi sudah ada beberapa kayu. Sekarang sudah dua hari mulai ditebang,” tuturnya.
Semangat gotong royong juga terlihat dari masyarakat yang membantu menyediakan tenaga maupun kebutuhan operasional. Bahkan, pemilik mesin senso untuk memotong kayu disebut bersedia membantu bahan bakar agar proses pekerjaan dapat terus berjalan. Baginya, bantuan sekecil apa pun memiliki arti besar.
Sebelumnya, pihaknya juga mengaku menerima bantuan dari Baznas Kuningan. Bantuan tersebut digunakan untuk menutupi kebutuhan sekolah, termasuk mebel dan perbaikan bangunan. Salah satu bantuan yang pernah diterima sekitar Rp5 juta. Namun, biaya tersebut belum cukup untuk memperbaiki seluruh ruangan yang mengalami kerusakan.
“Walaupun hanya Rp5 juta, bagi kami sangat berarti. Tapi memang tidak semua ruangan bisa diperbaiki dengan uang sebesar itu,” kata Munawar.
Selain mengandalkan donasi masyarakat, pihak sekolah juga terus berupaya mengajukan proposal bantuan kepada pemerintah. Rencana pengajuan ditujukan kepada pemerintah daerah, termasuk Bupati dan Wakil Bupati Kuningan serta dinas terkait.
Selain ke individu dan Baznas, pihaknya juga mengaku sudah mengajukan ke Kementerian Agama Republik Indonesia. Pengajuan bantuan telah dilakukan secara rutin setiap tahun melalui mekanisme yang tersedia. Pihak sekolah mengaku belum memperoleh realisasi bantuan pembangunan, meskipun komunikasi dan kunjungan dari jajaran Kemenag Kabupaten Kuningan tetap berjalan.
Menurutnya, salah satu kendala yang pernah muncul berkaitan dengan status tanah sekolah. Lahan MI Cimalaka saat ini masih berstatus tanah desa dengan hak guna pakai.
Pihak sekolah pun memilih memprioritaskan keselamatan dan kelayakan bangunan terlebih dahulu. Setelah kondisi bangunan membaik, mereka berharap dapat mengupayakan proses legalisasi dan sertifikasi lahan sekolah.
“Kami fokus dulu ke bangunan. Kalau bangunannya sudah bagus, kami akan berusaha lagi bagaimana caranya supaya tanah ini bisa menjadi milik sekolah dan disertifikatkan,” ujarnya.
Kerusakan atap menjadi persoalan yang paling mendesak. Hampir seluruh atap ruangan disebut telah lapuk dan pada dasarnya sudah harus diganti.
Kekhawatiran semakin besar karena musim hujan dapat memperparah kondisi bangunan. Sebelumnya, ketika hujan turun pada malam hari, guru dan siswa harus melakukan pembersihan terlebih dahulu sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.
Air yang masuk, lantai yang harus dipel, hingga genteng yang jatuh menjadi pekerjaan tambahan sebelum proses pembelajaran berlangsung.
“Kalau malamnya hujan, pagi-pagi anak dan guru harus bersih-bersih dulu, menyapu dan ngepel. Belum lagi ada genteng yang jatuh,” ungkapnya.
Oleh karena itu, pihaknya berharap perbaikan dapat dilakukan secepatnya, terutama sebelum musim penghujan kembali tiba. Bagi dia, perjuangan memperbaiki sekolah bukan hanya soal memperbaiki bangunan, melainkan kepastian supaya anak-anak tetap memiliki ruang belajar yang aman dan layak.
Di tengah keterbatasan bantuan dan kondisi bangunan yang membutuhkan perhatian, semangat gotong royong guru, orang tua, alumni, dan masyarakat menjadi kekuatan utama sekolah untuk terus bertahan.
“Yang penting kami sudah berusaha,” tutupnya.





