PESATNYA perkembangan teknologi digital, media sosial telah menjadi bagian yang nyaris tidak terpisahkan dari kehidupan remaja. Platform seperti Instagram, TikTok, hingga X bukan lagi sekedar sarana komunikasi, melainkan ruang pembentukan identitas, pengakuan sosial, bahkan tolak ukur kebahagiaan. Di balik kemudahan tersebut, tersimpan ancaman yang semakin nyata yaitu krisis kesehatan mental pada generasi muda.

‎Fenomena fear of missing out (FOMO) menjadi salah satu persoalan yang kini banyak dialami pelajar. Mereka merasa cemas ketika tidak mengikuti tren terbaru, takut tertinggal informasi, atau khawatir tidak dianggap eksis oleh lingkungan pergaulannya. Kondisi ini diperparah oleh budaya membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang ditampilkan secara selektif di media sosial. Akibatnya, muncul rasa rendah diri, insecurity, kecemasan, hingga tekanan psikologis yang berkepanjangan.

‎Ironisnya, ukuran keberhasilan dan kebahagiaan perlahan bergeser. Banyak remaja mulai menganggap jumlah likes, followers, dan komentar positif sebagai indikator nilai diri. Ketika unggahan mereka sepi respons, mereka merasa gagal, tidak menarik, bahkan tidak berarti. Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah potongan kecil kehidupan yang telah melalui proses seleksi, penyuntingan, bahkan manipulasi.

‎Realitas tersebut menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan. Sekolah tidak lagi cukup hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga harus mampu menjadi ruang yang aman bagi perkembangan kesehatan mental peserta didik. Guru Bimbingan dan Konseling (BK) dituntut untuk menghadirkan pendekatan yang lebih adaptif terhadap problematika zaman. Pendekatan konvensional yang hanya berorientasi pada penyelesaian masalah ketika siswa telah mengalami gangguan tidak lagi memadai. Dibutuhkan layanan konseling yang mampu menyentuh akar persoalan, yakni pola pikir dan sistem nilai yang dimiliki peserta didik.

‎Salah satu pendekatan yang relevan adalah Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) yang dikembangkan oleh Albert Ellis. REBT menekankan bahwa emosi negatif seseorang bukan semata-mata disebabkan oleh peristiwa yang dialami, melainkan oleh cara individu memaknai peristiwa tersebut. Dalam konteks FOMO, misalnya, seorang siswa tidak merasa cemas karena media sosial itu sendiri, tetapi karena ia memiliki keyakinan irasional seperti, “Saya harus selalu mendapat perhatian orang lain agar dianggap berharga,” atau “Saya harus lebih sukses daripada teman-teman saya.”

‎Melalui REBT, keyakinan yang tidak rasional tersebut diajak untuk dipertanyakan, diuji, kemudian diganti dengan cara berpikir yang lebih realistis dan sehat. Siswa dibimbing untuk memahami bahwa harga dirinya tidak ditentukan oleh popularitas, penampilan, ataupun validasi digital. Nilai seseorang tetap melekat sebagai manusia, terlepas dari banyak atau sedikitnya apresiasi yang diterima di media sosial.

‎Namun demikian, dalam konteks pendidikan Islam, pendekatan kognitif semata belum cukup. Perubahan pola pikir akan menjadi lebih kuat apabila dibangun di atas fondasi spiritual yang kokoh. Di sinilah pentingnya integrasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dalam layanan Bimbingan dan Konseling.

‎AIK mengajarkan bahwa manusia diciptakan Allah dengan kemuliaan yang sama. Kemuliaan itu tidak diukur dari status sosial, kekayaan, kecantikan, ataupun popularitas, melainkan dari kualitas ketakwaannya. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Al-Hujurat ayat 13: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

‎Ayat tersebut memberikan perspektif yang sangat relevan bagi generasi ditengah pesatnya informasi. Ketika media sosial menawarkan standar kebahagiaan yang semu, Islam justru mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan bersumber dari hubungan manusia dengan Tuhannya. Dengan demikian, peserta didik tidak lagi menggantungkan harga dirinya pada penilaian manusia, tetapi pada kesadaran bahwa dirinya memiliki nilai karena merupakan ciptaan Allah yang dimuliakan.

‎Nilai AIK juga mengajarkan konsep wasathiyah atau sikap moderat dalam menggunakan teknologi. Media sosial bukanlah sesuatu yang harus dijauhi, tetapi perlu dimanfaatkan secara bijaksana sebagai sarana dakwah, pembelajaran, pengembangan potensi, dan membangun jejaring positif. Spirit Islam berkemajuan yang menjadi karakter Muhammadiyah mendorong generasi muda untuk menjadi pengguna teknologi yang produktif, bukan sekedar konsumen konten yang terus-menerus mencari validasi.

‎Integrasi REBT dan AIK menghadirkan pendekatan yang saling melengkapi. REBT membantu memperbaiki distorsi kognitif yang menyebabkan kecemasan, sementara AIK memberikan arah moral dan spiritual agar perubahan perilaku memiliki landasan yang lebih kokoh. Ketika siswa mulai berpikir rasional sekaligus memiliki kedekatan dengan Allah, mereka akan lebih mudah mencapai kondisi thuma’ninah, atau biasa disebut dengan ketenangan hati yang tidak mudah diguncang oleh penilaian manusia maupun dinamika media sosial.

‎Peran guru BK dalam era digital pun mengalami transformasi. Guru BK bukan hanya menjadi penyelesai masalah ketika siswa bermasalah, tetapi juga menjadi fasilitator literasi digital, pendamping kesehatan mental, sekaligus pembimbing spiritual. Layanan konseling harus dikemas lebih dekat dengan dunia remaja, menggunakan bahasa yang mereka pahami, memanfaatkan media digital secara positif, serta membangun komunikasi yang hangat dan tidak menghakimi.

‎Pada akhirnya, krisis kesehatan mental di kalangan remaja bukan hanya menjadi persoalan teknologi, melainkan persoalan cara berpikir dan cara memandang diri sendiri. Selama peserta didik masih menggantungkan kebahagiaan pada validasi dunia maya, kecemasan akan terus menghantui mereka. Sebaliknya, ketika mereka mampu berpikir rasional dan menanamkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupannya, media sosial tidak lagi menjadi sumber tekanan, melainkan menjadi alat untuk berkarya dan memberi manfaat.

‎Sudah saatnya sekolah melakukan reformasi layanan Bimbingan dan Konseling yang lebih kontekstual dengan tantangan zaman. Sinergi antara Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) dan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) menawarkan jalan tengah yang tidak hanya menyembuhkan luka psikologis, tetapi juga membangun karakter dan ketahanan spiritual generasi muda. Di tengah derasnya arus digital, pendidikan tidak cukup hanya mencetak siswa yang cerdas secara intelektual, tetapi juga harus melahirkan generasi yang sehat mentalnya, matang emosinya, dan kokoh spiritualitasnya. Maka dari itu, ini merupakan fondasi penting untuk menghadirkan generasi berkemajuan yang mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan jati dirinya.

‎Penulis: Nadila Halimamatusya’diah ||Mahasiswa S2 Bimbingan Konseling Universitas Ahmad Dahlan