Di sebuah kota kecil yang ramai dengan spanduk dan berita, hidup dua benda yang bersahabat sekaligus bersaing: Pena dan Penghapus.
Setiap pagi, Pena bekerja keras. Ia menari di atas kertas, menulis kisah tentang rakyat kecil, pejabat besar, dan semua yang di antaranya.
Ia merasa bangga, tinta hitamnya adalah suara keadilan.
“Aku adalah pembawa kebenaran,” katanya lantang.
Namun suatu hari, datanglah Penghapus dengan senyum licin dan aroma parfum mahal.
Ia tidak bekerja setiap hari, tapi entah mengapa, dompetnya selalu tebal.
“Selamat pagi, Pena,” katanya santai.
“Kau menulis lagi tentang yang di atas, ya? Hati-hati, tinta itu bisa berujung pada amplop tebal.” Lanjut Penghapus.
Pena mendengus, “Aku menulis demi kebenaran.”
Penghapus terkekeh. “Kebenaran yang mana? Yang sebelum amplop datang atau setelahnya?”
