KUNINGAN — Bayangkan sebuah lanskap agraris di mana petani tidak lagi harus berkubang lumpur dan berjalan membungkuk di belakang mesin traktor yang menderu panas. Cukup dengan menggenggam sebuah gawai kendali jarak jauh (remote control), sebuah traktor tangan roda dua bisa melaju sendiri, membalik tanah basah mengikuti jalur presisi yang telah dipetakan secara digital. Di sudut petak lainnya, sebuah robot cerdas berbasis pemindaian visual bergerak lambat, mendeteksi spora penyakit patek pada tanaman cabai jauh sebelum gejala fisiknya disadari oleh mata telanjang manusia.

Skenario futuristik ini rupanya bukan lagi sekadar coretan konsep di atas kertas seminar. Lompatan teknologi ini sedang digarap serius untuk diterapkan di hamparan persawahan Kabupaten Kuningan. Melalui kerja sama strategis antara Pemerintah Kabupaten Kuningan dan IPB University, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini mulai dihilirisasi ke sektor agraria guna memicu lahirnya era smart agriculture di daerah.

Kemitraan yang dimotori oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan bersama Tim Riset IPB University ini dirancang sebagai jawaban atas problem akut pedesaan: kelangkaan tenaga kerja tani, lambannya regenerasi petani muda, serta stagnasi produktivitas pangan nasional.

AI-TRAC dan ANTRAC: Dua Mesin Penjaga Sawah

Dalam demonstrasi teknologi yang dipimpin oleh Dr. Ridwan Siskandar dari IPB University, diperkenalkan dua perangkat inovasi berbasis kecerdasan buatan yang siap diadopsi lapangan. Pertama adalah AI-TRAC (Artificial Intelligence Tractor Retrofit Autonomous Control). Teknologi ini berupa sistem modifikasi eksternal (retrofit) yang mampu menyulap traktor tangan konvensional menjadi mesin pintar bermode ganda: kendali jarak jauh dan otonom.

Dengan AI-TRAC, beban fisik operator lapangan dipangkas habis. Traktor bergerak mandiri mengolah lahan dengan pengawasan berbasis data, yang diklaim mampu meningkatkan keselamatan kerja sekaligus menciptakan efisiensi waktu pembajakan sawah secara signifikan.

“Riset tidak boleh mandek di laboratorium atau hanya berakhir menjadi tumpukan laporan akademik yang berdebu di perpustakaan. Inovasi harus mendarat di tengah lumpur sawah, menjawab keluhan nyata para petani, dan mendongkrak nilai ekonomi mereka,” ujar Ridwan Siskandar menegaskan pentingnya hilirisasi riset.

Senjata kedua yang dikerahkan adalah ANTRAC, robot pengintai yang dibekali teknologi Deep Learning dan pengenalan citra (image recognition). Tugas spesifik ANTRAC adalah mendeteksi secara dini serangan jamur antraknosa atau yang akrab disebut penyakit patek oleh petani local pada komoditas cabai. Karena patek kerap memicu gagal panen massal, kemampuan ANTRAC mendeteksi gejala awal secara mikro memungkinkan langkah karantina tanaman dilakukan lebih cepat, akurat, dan berbasis data ilmiah sebelum wabah meluas.

Strategi Menjaring Minat Milenial

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., memandang masuknya teknologi IPB sebagai momentum krusial untuk mengubah citra sektor pertanian yang selama ini lekat dengan kesan kotor, miskin, dan melelahkan. Baginya, digitalisasi adalah satu-satunya umpan lambung yang bisa menarik minat generasi milenial dan Gen Z untuk kembali menengok potensi tanah kelahiran mereka.

“Anak-anak muda hari ini tumbuh bersama ekosistem digital. Jika kita ingin mereka mau kembali ke sawah, maka pertanian harus tampil modern dan menjanjikan secara ekonomi. AI-TRAC dan ANTRAC adalah instrumen penting untuk memotong stigma kuno tersebut,” kata Wahyu menjelaskan strategi daerah.

Pemkab Kuningan memastikan proyek ini tidak akan layu di tengah jalan sebagai program kosmetik belaka. Guna menjamin keberlanjutannya, dilakukan penandatanganan dokumen penyelesaian hambatan teknis (bottleneck) antara Tim Riset IPB dan Dinas Pertanian. Dokumen operasional ini mengatur secara rigid skema pembagian peran di lapangan, mulai dari pelatihan intensif bagi para penyuluh pertanian, penguatan kelembagaan kelompok tani, hingga penyusunan regulasi pembiayaan dalam dokumen perencanaan daerah.

Melalui langkah taktis ini, Kabupaten Kuningan perlahan memosisikan diri sebagai salah satu laboratorium hidup pengembangan pertanian presisi di Jawa Barat. Sebuah ikhtiar di mana tradisi bercocok tanam di kaki Gunung Ciremai tidak lagi digerakkan oleh otot semata, melainkan dikendalikan oleh akurasi data dan kecerdasan buatan. ***