GARUT — Di bawah kaki Gunung Guntur yang sejuk, genderang Hisense Cup 2026 resmi ditabuh pada Selasa (8/4/2026). Namun, bagi Hisense, raksasa elektronik yang kini merajai pasar televisi 100 inci dunia itu, gelaran ini lebih dari sekedar urusan tendang-menendang bola futsal di kalangan pelajar SMP. Ini adalah manuver “dua kaki” yang strategis yaitu menyentuh akar rumput sekaligus memoles citra Environmental, Social, and Governance (ESG) di level ASEAN.

Turnamen yang melibatkan 16 tim SMP/MTs terbaik se-Jawa Barat ini menjadi panggung bagi Hisense untuk menunjukkan bahwa mereka tidak hanya berjualan layar MiniLED di mal-mal mewah, tetapi juga “berkeringat” di lapangan hijau Garut. Menariknya, dalam eksekusi teknisnya, Hisense menjatuhkan pilihan pada Proton FC Kuningan sebagai mitra operasional.

Proton FC dan Lobi ‘Gelas Kaca’

Dipilihnya Proton FC asal Kuningan sebagai rekanan kerja sama menjadi catatan tersendiri. Ini membuktikan bahwa kapasitas manajerial klub besutan Thony Indra Gunawan tersebut telah melampaui batas-batas lapangan futsal. Dengan keterlibatan lebih dari 320 pemain dan 80 ofisial, manajemen Proton FC dipaksa bekerja ekstra untuk menjaga standar global yang dipatok Hisense.

“Olahraga memiliki kekuatan untuk menyatukan dan menginspirasi generasi muda. Kami ingin menghadirkan platform yang kompetitif sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan talenta,” ujar Jaton Li, Presiden Direktur Hisense Indonesia, dalam keterangan resminya.

Bagi Jaton Li, turnamen ini adalah langkah taktis untuk menghubungkan gairah lokal dengan panggung dunia, terutama menjelang momentum FIFA World Cup 2026™ di mana Hisense berdiri sebagai salah satu sponsor utama.

Sport Tourism: Bola yang Menghidupkan Warung

Hisense Cup 2026 tidak hanya mengejar skor di papan digital. Dengan mengusung konsep sport tourism, ajang ini dirancang untuk “memaksa” ribuan penonton bergerak ke Garut. Efek domino yang diincar jelas ialah geliat UMKM di sekitar venue dan penguatan citra daerah sebagai destinasi wisata berbasis olahraga.

Inisiatif ini menjadi wujud konkret dari slogan “Innovating a Brighter Life”. Hisense mencoba membuktikan bahwa tanggung jawab sosial (ESG) tidak harus kaku dan membosankan, melainkan bisa dikemas lewat keriuhan penonton dan prestasi remaja usia belasan.

Panggung Global dari Akar Rumput

Sejak berdiri pada 1969, Hisense memang dikenal agresif dalam kemitraan olahraga global. Namun, langkah mereka masuk ke turnamen tingkat SMP di Jawa Barat menunjukkan strategi penetapan pasar yang lebih emosional. Mereka tidak hanya menjual barang, tapi menjual harapan.

Bagi Jawa Barat, dan khususnya bagi Proton FC yang “mengomandani” lapangan, kolaborasi ini adalah bukti bahwa profesionalisme daerah bisa bersenyawa dengan standar global. Di Garut, bukan hanya bakat sepak bola yang sedang diuji, melainkan kredibilitas kolaborasi antara korporasi besar dan penggerak olahraga lokal dalam menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan. (ali)