
KETIKA mie dan roti jadi kebiasaan, dan gandum datang hampir 100% dari luar, kita sedang membentuk arah bangsa. Tanpa sadar.
Perubahan tidak datang sebagai ancaman. Ia datang sebagai kemudahan. Lebih cepat, lebih praktis, lebih terjangkau. Dan kita menerimanya tanpa curiga.
Hari ini, mie instan dan roti bukan lagi pilihan sesekali. Ia sudah menjadi kebiasaan. Sarapan, makan siang, bahkan solusi di tengah kesibukan. Semua terasa normal.
Namun, di balik normalnya itu, ada satu fakta yang jarang kita tanyakan. Dari mana semua itu berasal?
Data dari Food and Agriculture Organization menunjukkan bahwa Indonesia mengimpor sekitar 11–12 juta ton gandum setiap tahun. Hampir seluruh kebutuhan tersebut berasal dari luar negeri. Sementara itu, kedelai, bahan utama tempe dan tahu, masih bergantung pada impor hingga sekitar 85–90 persen, berdasarkan data Badan Pusat Statistik.
Artinya sederhana, tapi dalam. Semakin kita merasa praktis, semakin kita bergantung. Ini bukan sekadar perubahan selera. Ini adalah perubahan arah.
Padahal, Indonesia memiliki kekayaan pangan yang luar biasa. Singkong, sagu, jagung, hasil laut, hingga berbagai komoditas pertanian, peternakan, dan perkebunan. Semua tersedia. Semua nyata.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Yang kita miliki tidak menjadi pilihan utama, dan yang kita pilih bukan berasal dari kita. Mengapa?
Dalam kerangka ipoleksosbud, ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya, perubahan ini bukan kebetulan. Ideologi bekerja tanpa suara, membentuk cara pandang bahwa yang instan itu modern, yang impor itu lebih bernilai. Ekonomi bergerak melalui sistem industri yang kuat, yang mampu memproduksi massal, mendistribusikan cepat, dan menjangkau luas.
Sosial mengikuti ritme hidup yang semakin cepat, sehingga yang praktis menjadi kebiasaan. Budaya pun menyesuaikan diri, yang sering dikonsumsi akhirnya dianggap wajar. Dan politik, melalui kebijakan, menentukan apakah semua ini dibiarkan atau diarahkan.
Kita tidak dipaksa. Namun kita dibiasakan. Dan yang paling berbahaya, semua ini terasa normal. Ketika konsumsi bergeser, produksi ikut melemah. Ketika produksi melemah, ketergantungan tumbuh. Dan ketika ketergantungan menguat, kedaulatan tidak hilang secara tiba-tiba. Ia memudar.
Pelan. Tanpa suara. Di titik inilah negara tidak boleh sekadar hadir, negara harus berpihak. Bukan hanya berbicara tentang ketahanan pangan, tetapi memastikan pangan lokal benar-benar hidup di pasar. Bukan hanya mendorong produksi, tetapi menjamin hasil petani, nelayan, peternak, dan pekebun tidak kalah sebelum bersaing. Bukan hanya membuat kebijakan, tetapi membangun sistem yang menghubungkan produksi, distribusi, dan konsumsi dalam satu arah yang jelas.
Lebih dari itu, negara harus berani menghidupkan kembali hubungan antara pangan, budaya, dan kesehatan. Karena apa yang kita makan hari ini bukan hanya soal kenyang, tetapi soal kualitas manusia. Ketika konsumsi semakin didominasi produk olahan dan ketergantungan impor, dampaknya tidak berhenti di ekonomi. Ia masuk ke tubuh, ke kesehatan, ke daya tahan generasi.
Padahal bangsa yang kuat tidak hanya ditentukan oleh angka ekonomi, tetapi oleh manusia yang sehat, sadar, dan berakar. Indonesia tidak kekurangan sumber daya. Tidak kekurangan budaya. Tidak kekurangan potensi.
Yang sedang diuji hari ini adalah keberanian untuk memilih. Apakah kita akan terus mengikuti arus yang memudahkan, atau mulai mengarahkan arus itu sendiri?
Karena pada akhirnya, identitas bangsa tidak hilang karena dihancurkan. Ia hilang ketika tidak lagi dipraktikkan. Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita sudah mulai menukarnya, sedikit demi sedikit, dengan kemudahan.
Tulisan ini lahir dari kegelisahan sederhana. Tentang apa yang kita makan hari ini, dan apa yang akan kita wariskan esok hari..
Penulis: H. M. Yadi Suryadi || Dosen Kesehatan Masyarakat Unisa Kuningan




