KUNINGAN – Tradisi Pesta Dadung yang rutin digelar dalam rangkaian Seren Tahun memiliki makna yang dalam tentang pelestarian alam, penghormatan terhadap leluhur, serta menjaga persatuan di tengah keberagaman. Tradisi tersebut berlangsung di Situ Hyang Taman Mayasih Cigugur, Kamis, (4/6/2026).

Salah satu simbol yang paling menarik perhatian dalam Pesta Dadung yaitu tali yang disambung dan dipegang bersama oleh perwakilan berbagai keyakinan. Bagi masyarakat Paseban, simbol tersebut memiliki makna yang sangat kuat, yaitu menjaga ikatan persaudaraan dan kerukunan antar umat beragama.

Salah satu keluarga besar Paseban sekaligus keturunan leluhur Paseban Tri Panca Tunggal, Andre Andriansyah, menjelaskan bahwa Pesta Dadung merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah dan warisan para karuhun agar tidak hilang ditelan zaman.

“Maknanya kita mengenang sejarah masa lalu yang diwariskan secara turun-temurun. Jangan sampai warisan leluhur ini hilang atau terputus. Yang paling penting adalah menjaga alam agar tetap lestari sebagaimana pesan para karuhun zaman dulu,” ujarnya.

Menurutnya, kerusakan alam yang terjadi saat ini banyak dipicu oleh keserakahan manusia, seperti penebangan pohon secara sembarangan yang pada akhirnya berdampak kepada masyarakat sendiri melalui bencana alam maupun menurunnya kesuburan lahan pertanian.

“Kalau alam dirusak, dampaknya pasti kembali kepada masyarakat. Bisa terjadi longsor dan berbagai bencana lainnya. Karena itu, tradisi ini juga menjadi pengingat agar pertanian tetap subur dan kehidupan masyarakat tetap sejahtera,” katanya.

Lebih lanjut, Andre menuturkan bahwa tali yang saling menyambung dalam Pesta Dadung merupakan simbol keterikatan dan persatuan masyarakat Cigugur yang terdiri dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan.

“Simbol tali itu menandakan bahwa kita tetap terikat dalam silaturahmi. Di sini ada berbagai macam keyakinan, dan semuanya bersatu. Tali itu dipegang oleh perwakilan dari Islam, Sunda Wiwitan, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Semua lebur menjadi satu sebagai lambang kerukunan antar umat beragama yang dipusatkan di Paseban Tri Panca Tunggal,” jelasnya.

Selain itu, sejumlah ritual yang kerap dipahami sebagian masyarakat sebagai bentuk mistis, sejatinya merupakan ungkapan rasa syukur dan penghormatan terhadap tempat yang dianggap memiliki nilai sejarah tinggi.

“Kita hidup berdampingan dengan alam dan menghormati peninggalan leluhur. Apa yang dilakukan dalam tradisi ini pada dasarnya adalah bentuk rasa syukur dan penghargaan terhadap sejarah,” ungkapnya.

Di dalam Pesta Dadung juga terdapat simbol-simbol yang berkaitan dengan kehidupan pertanian. Simbol tersebut menggambarkan harapan agar berbagai hama yang kerap merusak tanaman, seperti tikus dan belalang, dapat disingkirkan sehingga kesejahteraan masyarakat tetap terjaga.

Bagi masyarakat setempat, Pesta Dadung bukan hanya sebuah tradisi tahunan, melainkan juga media untuk merawat nilai-nilai kebersamaan, menjaga keseimbangan alam, serta memperkuat pesan bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang harus terus dirajut layaknya tali yang tak pernah putus.