KUNINGAN – Program Studi Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Islam Al-Ihya Kuningan berhasil meraih predikat akreditasi unggul. Capaian tersebut menjadi tonggak penting bagi fakultas sekaligus awal untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.

Selain Prodi Gizi, satu bulan sebelumnya Prodi Kesehatan Masyarakat Unisa Kuningan juga meraih predikat yang sama. Keduanya sama-sama unggul setelah dinilai Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan (LAMPTKes)

Dekan Fikes Unisa Kuningan, Alfiani Rizqi, mengatakan keberhasilan tersebut merupakan buah dari kerja keras seluruh sivitas akademika, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa hingga dukungan masyarakat dalam pelaksanaan praktik lapangan.

“Bukti kerja keras kami dari Fakultas Ilmu Kesehatan, terutama Program Studi Gizi dan Kesehatan Masyarakat yang telah mempersiapkan semuanya. Dosen-dosen terus meningkat jabatan fungsionalnya dan mahasiswa terus berkarya di lapangan,” ujar Alfiani, Jum’at, (5/6/2026).

Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci utama dalam pencapaian akreditasi unggul. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh program studi, Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), tenaga kependidikan, mahasiswa serta pihak-pihak yang selama ini mendukung proses akreditasi.

“Tanpa kolaborasi dan kekompakkan para pihak dalam melaksanakan tridarma, akreditasi unggul tidak akan bisa tercapai,” katanya.

Alfiani mengungkapkan, keberadaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut membuka peluang besar bagi lulusan Fikes Unisa. Bahkan, seluruh lulusan Program Studi Gizi saat ini telah terserap di dunia kerja.

Selain itu, kata dia, sejumlah alumni juga telah menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kabupaten Kuningan maupun wilayah Cirebon.

Seiring dengan pencapaian tersebut, Fikes Unisa kini tengah mempersiapkan pembukaan Program Pendidikan Profesi Gizi dengan konsentrasi nutrisionis. Perencanaan tersebut telah dimulai sejak 2024 dan ditargetkan mulai dibuka pada tahun ajaran 2027-2028.

“Kami sudah merancang sejak tahun 2024 dan insyaallah bisa dirilis atau dibuka pada tahun ajaran 2027-2028. Profesi gizi ini akan mengambil bidang nutrisionis,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi pembukaan program profesi tersebut. Pertama, tingginya penyerapan lulusan di bidang nutrisionis, terutama di Puskesmas dan program MBG. Sementara penyerapan di rumah sakit hanya sekitar 10 persen.

Selain itu, tingginya angka stunting di Kabupaten Kuningan juga menjadi perhatian serius bagi Fikes Unisa. Menurut Alfiani, keberadaan Program Studi Gizi dan rencana pembukaan profesi nutrisionis diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menekan prevalensi stunting di daerah.

“Kuningan menjadi salah satu kabupaten dengan angka stunting yang masih tinggi. Persoalan tersebut menjadi tanggung jawab bersama, termasuk bagi kami yang memiliki Program Studi Gizi di Unisa,” ujarnya.

Ia berharap dukungan dari pemerintah, dosen dan seluruh keluarga besar Unisa agar pengembangan Program Pendidikan Profesi Gizi dapat berjalan sesuai rencana.

Pihaknya juga menegaskan, predikat akreditasi unggul bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk terus melakukan perbaikan mutu. Dengan demikian, mahasiswa dan dosen dapat terus berkembang serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

“Unggul bukan akhir dari segalanya, tetapi awal dari perbaikan mutu kami. Sehingga mahasiswa dan dosen dapat terus berkembang demi kebermanfaatan bagi masyarakat,” tutupnya.