KUNINGAN — Pemerintah Kabupaten Kuningan mempercepat penguatan hilirisasi pertanian dengan menjadikan jagung pakan sebagai komoditas strategis penopang industri peternakan. Sepanjang 2025, produksi jagung di daerah ini tercatat mencapai 17.556 ton, dengan produktivitas rata-rata 57,83 kuintal per hektare.

Penguatan tersebut ditandai dengan panen jagung pakan di lahan BUMDes Nanjung Holtikultura, Desa Geresik, Kecamatan Ciawigebang, Sabtu, 27 Februari 2026 lalu. Kegiatan itu dipimpin Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah.

Berdasarkan data dinas, pada 2025 luas tanam jagung mencapai 3.189 hektare dengan luas panen 3.039 hektare. Total produksi 17.556 ton tersebut menjadi salah satu penopang utama kebutuhan bahan baku pakan ternak di wilayah Kuningan dan sekitarnya.

Memasuki Januari–Februari 2026, produksi tetap menunjukkan tren terjaga. Luas tanam tercatat 83 hektare dengan luas panen 1.489 hektare dan produksi mencapai 8.015 ton. Produktivitas rata-rata berada di angka 53,83 kuintal per hektare.

Wahyu mengatakan jagung pakan memiliki posisi vital dalam rantai ketahanan pangan. Komoditas ini menjadi bahan utama pakan ternak, terutama unggas dan ruminansia. “Jagung pakan bukan sekadar komoditas pertanian, tetapi bagian dari rantai ketahanan pangan. Ketika pasokan jagung stabil, industri peternakan lebih kuat dan harga protein hewani lebih terkendali,” ujarnya.

Menurut dia, pengembangan jagung pakan di tingkat desa merupakan bagian dari strategi hilirisasi yang mengintegrasikan subsektor tanaman pangan dengan peternakan. Pola ini diarahkan agar produksi di hulu dapat langsung terserap di hilir tanpa ketergantungan berlebih pada pasokan luar daerah.

“Kita membangun sistem terintegrasi. Produksi jagung dikelola petani desa, dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan, lalu menopang ketersediaan protein hewani masyarakat,” kata Wahyu.

Panen di Desa Geresik juga menunjukkan peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam pengelolaan komoditas. Keterlibatan kelembagaan desa dinilai penting untuk menjaga kesinambungan produksi sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

Kepala Desa Geresik, Farman atau Ipong, mengatakan pendampingan teknis sejak masa tanam hingga panen berdampak langsung terhadap hasil produksi. “Pendampingan berkelanjutan membuat petani lebih percaya diri. Produktivitas meningkat dan ada peluang usaha baru di desa,” ujarnya.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan fluktuasi harga komoditas, Pemerintah Kabupaten Kuningan menyatakan akan memperluas pengembangan jagung pakan sebagai bagian dari strategi stabilisasi pangan daerah. Pemerintah menargetkan kesinambungan produksi tetap terjaga sepanjang 2026, sembari memperkuat pola kemitraan antara petani, penyuluh, dan pelaku usaha pakan ternak.

“Produktivitas harus terus dijaga. Pertanian adalah fondasi ketersediaan pangan masyarakat,” kata Wahyu. (ali)