JAKARTA – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mendorong Prof. Dr. Nurcholis Madjid atau akrab disebut Cak Nur menjadi Pahlawan Nasional. Pernyataan itu disampaikan oleh Bagas Kurniawan selaku Ketua Umum disela perayaan hari puncak Dies Natalis ke- 79, di Smesco Convention Hall, Jakarta, Minggu, (1/3/2026) malam.
Bagas menilai, sosok yang sering dijuluki sang guru bangsa itu telah berkontribusi besar dalam pembaruan pemikiran Islam, salah satunya trilogi yang dirangkum dalam frasa keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan.
”Salah satu warisan HMI adalah kita bisa menjadi insan yang memiliki pemikiran tanpa ada split personality antara keislaman dan keindonesiaan, tentu hal itu tidak lain karena sumbangsih dari Nurcholis Madjid yang menggelorakan tentang keislaman, keindonesiaan dan kemodernan,” ujarnya.
Oleh sebab itu, tegas Bagas, pihaknya akan bergerak untuk mendorong Cak Nur menjadi pahlawan nasional. Menurutnya, pemikiran yang dituangkan ke dalam karya-karya ilmiah dan gerakan intelektual yang digagas Cak Nur telah memberikan fondasi kuat bagi lahirnya generasi Islam yang inklusif, moderat, dan berkemajuan.
”Oleh karena itu, untuk menghormati karya-karya beliau, selain alumni HMI dan juga tokoh intelektual muslim Indonesia, maka kami ke depan akan membuat gerakan untuk mendorong Nurcholis Madjid menjadi pahlawan nasional Indonesia,” tegasnya.
Diketahui, Nurcholish Madjid merupakan salah satu cendekiawan muslim terkemuka Indonesia yang dikenal dengan gagasan pembaruan pemikiran Islam dan komitmennya terhadap demokrasi serta pluralisme.
Selain dikenal sebagai intelektual muslim progresif, Nurcholish Madjid juga memiliki rekam jejak panjang dalam perjalanan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum PB HMI periode 1966–1969 dan menjadi salah satu tokoh penting yang mewarnai arah pemikiran organisasi tersebut, terutama dalam memperkuat identitas keislaman yang sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan.
Gagasan besarnya tentang “Islam Yes, Partai Islam No” pada masanya menjadi wacana pembaruan yang menggugah diskursus nasional. Ia mendorong umat Islam untuk memisahkan antara nilai-nilai substantif ajaran Islam dengan kepentingan politik praktis, sekaligus menegaskan bahwa Islam kompatibel dengan demokrasi, hak asasi manusia, dan kemajemukan bangsa.
Tak hanya aktif di ranah organisasi, Ia juga mendirikan Paramadina yang kemudian berkembang menjadi Universitas Paramadina, sebagai ruang dialog dan pengembangan pemikiran Islam yang inklusif dan terbuka. Melalui berbagai karya tulis, ceramah, dan forum ilmiah, ia konsisten menyuarakan pentingnya pembaruan pemikiran Islam agar relevan dengan tantangan zaman modern. (Icu)
