
KUNINGAN – Ketersediaan dokter gigi di Kabupaten Kuningan dinilai masih jauh dari ideal. Sejumlah Puskesmas, terutama di wilayah pelosok, hingga kini masih belum memiliki dokter gigi tetap.
Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Kuningan, Cep Heri Purnama Sakti mengatakan, kebutuhan tenaga dokter gigi di fasilitas pelayanan kesehatan dasar saat ini cukup mendesak. Meski pemerintah daerah telah membuka perekrutan tenaga BLUD, jumlah tenaga yang tersedia masih belum mampu menutupi kebutuhan.
“Dengan adanya kebijakan perekrutan tenaga BLUD, sekarang sudah ada sekitar enam sampai tujuh dokter gigi baru yang mengisi. Tapi tetap masih kurang,” ujarnya usai kegiatan pelantikan, Sabtu, (23/5/2026).
Menurut Heri, banyak dokter gigi lebih memilih membuka praktik mandiri atau bergabung dengan klinik swasta dibanding bertugas di Puskesmas wilayah terpencil. Faktor jarak, beban kerja, hingga keterbatasan fasilitas menjadi alasan utama.
“Kalau bukan tenaga PNS, kita tidak bisa memaksa. Jadi hanya yang bersedia saja untuk mengabdi,” katanya.
Ia menambahkan, kebutuhan dokter gigi spesialis di Kuningan juga sangat mendesak, terutama spesialis bedah mulut dan konservasi gigi. Selama ini, pasien dengan kasus berat seperti infeksi serius, tindakan operasi mulut, hingga perawatan gigi kompleks harus dirujuk ke luar daerah, khususnya ke Cirebon.
“Untuk kasus-kasus yang memerlukan tindakan bedah atau perawatan khusus, sekarang belum ada spesialisnya di Kuningan. Jadi pasien harus ke Cirebon, menunggu antrean sampai dua atau tiga bulan,” ungkapnya.
Kondisi tersebut diperparah dengan rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan gigi. Heri menilai banyak warga baru datang berobat ketika kondisi gigi sudah parah.
“Masyarakat sering menganggap sakit gigi itu sepele dan cukup diobati sendiri dengan obat warung. Akhirnya ketika datang ke fasilitas kesehatan, kondisinya sudah berat,” jelasnya.
Ia pun mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan gigi sejak dini dengan membiasakan menyikat gigi dua kali sehari, terutama sebelum tidur.
“Yang paling penting itu justru sebelum tidur. Karena saat malam hari bakteri di mulut lebih aktif,” katanya.
Untuk mengatasi kekurangan tenaga spesialis, PDGI bersama pemerintah daerah tengah mendorong program bantuan pendidikan bagi putra daerah yang ingin mengambil pendidikan dokter spesialis maupun dokter gigi spesialis.
Menurut Heri, skema bantuan itu nantinya diharapkan disertai ikatan pengabdian agar lulusan kembali bertugas di rumah sakit daerah.
“Harapannya putra daerah mau sekolah spesialis, lalu kembali mengabdi di rumah sakit umum daerah. Karena kalau tidak ada ikatan kerja sama, biasanya setelah lulus mereka lebih memilih rumah sakit swasta dengan pendapatan yang lebih besar,” tutupnya.




