
KUNINGAN – Langkah pembenahan ruang publik urban di tingkat akar rumput kembali ditunjukkan oleh masyarakat Kabupaten Kuningan. Kawasan Komplek Situ Sangga Buana di Kelurahan Cijoho, yang dulunya dicap kurang produktif dan terabaikan, kini menjelma menjadi episentrum baru pemberdayaan ekonomi serta ketahanan pangan. Geliat perubahan radikal tersebut diresmikan langsung oleh Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., melalui peresmian Tugu Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB) Sangga Buana pada Minggu (24/5/2026).
Prosesi peresmian yang ditandai dengan penandatanganan prasasti di atas batu alam ini bukan sekadar seremoni gunting pita biasa. Di balik berdirinya tugu fisik tersebut, ada keringat dan swadaya murni dari warga Cijoho yang jengah melihat lingkungannya telantar. Tanpa menggantungkan diri pada kucuran dana APBD murni, warga sukses mendirikan tugu yang kini kokoh berdiri sebagai simbol kemandirian lokal.
Ketua Panitia Pembangunan, Dedi Rusyadi, memaparkan bahwa tugu ini merupakan representasi visual dari persatuan warga. “Kami ingin membuktikan bahwa pembangunan wilayah tidak harus selalu menunggu uluran tangan pemerintah. Ketika masyarakat satu visi, kawasan yang tidak tertata pun bisa disulap menjadi ruang yang asri, produktif, dan sehat,” ujar Dedi Magrib sapaan akrab Dedi Rusyadi.
Kawasan Situ Sangga Buana kini didesain sebagai pusat kegiatan klaster keluarga secara terpadu. Di lokasi ini, ekosistem ekonomi rill dihidupkan melalui integrasi Kelompok Wanita Tani (KWT) dan Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan). Ibu-ibu setempat menggarap tanaman pangan skala mikro, sementara kaum pria mengelola kolam budidaya perikanan air tawar. Skema swadaya ini dinilai sangat efektif dalam mempertebal ketahanan pangan keluarga sekaligus memutus rantai pasok tengkulak yang kerap merugikan petani kota.
Bupati Dian Rachmat Yanuar tidak dapat menyembunyikan kekagumannya saat meninjau langsung kawasan tersebut bersama Ketua TP PKK Kabupaten Kuningan Hj. Ela Helayati dan Sekretaris Daerah Uu Kusmana, S.Sos., M.Si. Menurut Dian, apa yang digerakkan oleh warga Cijoho merupakan manifestasi paling otentik dari Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2022 tentang Optimalisasi Penyelenggaraan Kampung Keluarga Berkualitas.
“Hari ini kita menyaksikan sebuah aksi nyata, bukan sekadar teori di atas kertas. Kawasan yang sebelumnya mati, kini hidup dan produktif berkat kekompakan masyarakat. Pembangunan yang lahir dari rahim swadaya ini menunjukkan esensi sejati dari kemandirian kelurahan,” tegas Bupati Dian.
Lebih jauh, Dian mengingatkan bahwa esensi dari Kampung KB harus menyentuh tiga aspek fundamental yaitu intervensi ekonomi keluarga, inovasi berkelanjutan, dan pembenahan sanitasi lingkungan. Terlebih, Kabupaten Kuningan memiliki posisi tawar yang diperhitungkan di tingkat Provinsi Jawa Barat dalam tata kelola program ini.
Pada tahun 2026, Kabupaten Kuningan kembali menyabet penghargaan bergengsi di level Jawa Barat berkat inovasi bertajuk “Tasunting” (Taman Sehat Cegah Stunting). Program ini mengintegrasikan edukasi gizi keluarga, pemanfaatan pekarangan pangan, dan pemantauan kesehatan balita secara berkala di ruang terbuka publik.
Dian berharap tata kelola sosiologis di Cijoho yang juga melahirkan fasilitas Saung Sawala tempat warga bermusyawarah dan memasarkan produk UMKM local dapat direplikasi oleh desa-desa lain di wilayah Kuningan. “Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten dilakukan bersama-sama. Saya titip, jaga kawasan ini, terus berinovasi, dan jangan biarkan semangat gotong royong ini layu,” pungkasnya. ***




