Penulis oleh: Siti Saroh Fauziah

“Bumi menyediakan cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi tidak untuk memenuhi keserakahan manusia.” — Mahatma Gandhi

Saat ini, persoalan sampah plastik menjadi salah satu masalah lingkungan yang paling sering dibahas di Indonesia. Hampir di setiap tempat, mulai dari jalanan, sungai, pasar, hingga pantai, sampah plastik masih mudah ditemukan. Padahal, plastik termasuk jenis sampah yang sangat sulit terurai dan dapat bertahan hingga ratusan tahun di alam. Fenomena ini menunjukkan bahwa penggunaan plastik berlebihan masih menjadi kebiasaan masyarakat dari dulu hingga sekarang.

Bahkan, berdasarkan data terbaru, Indonesia menjadi salah satu penyumbang emisi metana terbesar di dunia. TPST Bantargebang juga sempat menjadi perhatian komunitas global. Berdasarkan pemantauan satelit NASA dan Carbon Mapper, Bantargebang tercatat sebagai salah satu penyumbang emisi gas metana terbesar di dunia dengan semburan metana mencapai sekitar 6,3 metrik ton per jam.

Data dari GoodStats yang mengutip Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2025 menunjukkan bahwa Indonesia menghasilkan lebih dari 20 juta ton sampah setiap tahun. Dari jumlah tersebut, lebih dari 20% merupakan sampah plastik. Artinya, jutaan ton sampah plastik terus menumpuk setiap tahunnya dan sebagian besar belum terkelola dengan baik. Kondisi ini tentu menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Di era media sosial seperti sekarang, pengaruh untuk mengajak masyarakat peduli terhadap lingkungan sebenarnya sangat besar. Informasi dan kampanye tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dapat dengan mudah menyebar luas. Namun, di sisi lain, media sosial juga sering membuat kepedulian masyarakat hanya bersifat sementara karena mengikuti tren. Tidak sedikit orang yang membuat unggahan tentang lingkungan hanya demi konten, tetapi belum benar-benar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Rasa empati terhadap lingkungan pun perlahan mulai menurun. Banyak orang menganggap persoalan sampah bukan tanggung jawab pribadi. Ada yang berpikir bahwa sampah nantinya akan dibersihkan oleh petugas kebersihan atau pemerintah. Padahal, kebiasaan kecil seperti membuang bungkus makanan sembarangan dapat menimbulkan dampak besar apabila dilakukan oleh banyak orang. Dalam Islampun, kita diajarkan untuk menjaga kebersihan itu sendiri. Kalimat yang sering kita dengar adalah “kebersihan adalah sebagian dari iman”.

Di tengah kondisi tersebut, muncul berbagai komunitas peduli lingkungan yang memberikan pengaruh positif, salah satunya Pandawara Group. Komunitas ini dikenal melalui aksi membersihkan sungai, pantai, dan berbagai tempat yang dipenuhi sampah. Kehadiran mereka juga berhasil mengajak banyak anak muda untuk ikut berpartisipasi dalam menjaga lingkungan.

Berawal dari viralnya aksi Pandawara Group di media sosial, kini semakin banyak komunitas anak muda yang aktif membuat gerakan peduli lingkungan. Ada yang mengadakan aksi bersih pantai, membentuk bank sampah, hingga membuat kampanye daur ulang plastik menjadi barang yang lebih bermanfaat. Pemerintah Indonesia juga terus mendorong program “Indonesia Bebas Sampah 2029” guna meningkatkan pengelolaan sampah secara nasional. Hal ini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan membutuhkan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, terutama generasi muda.

Generasi muda sebenarnya memiliki pengaruh besar dalam membangun kesadaran lingkungan. Tren yang berkembang di kalangan anak muda sangat mudah menyebar melalui media sosial. Ketika gaya hidup ramah lingkungan dianggap menarik dan bermanfaat, lebih banyak orang akan ikut menerapkannya. Misalnya, membawa tumbler sendiri, menggunakan tas belanja kain, atau mengurangi penggunaan sedotan plastik. Kebiasaan sederhana seperti itu dapat menjadi langkah kecil yang membawa dampak besar apabila dilakukan bersama-sama.

Bentuk dukungan terhadap lingkungan sebenarnya dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti:

  1. Membuang sampah pada tempatnya.
  2. Memilah sampah organik dan anorganik.
  3. Menggunakan kembali barang yang masih layak pakai.
  4. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
    Bahkan, langkah kecil seperti membawa botol minum sendiri atau menolak kantong plastik saat berbelanja sudah termasuk bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan tentang melakukan hal besar seorang diri, melainkan tentang kebiasaan kecil yang dilakukan bersama-sama. Sampah plastik mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya dapat berlangsung sangat lama bagi bumi dan generasi mendatang. Oleh karena itu, generasi muda perlu menjadi bagian dari solusi, bukan hanya menjadi penonton, apalagi pencemar lingkungan. Lingkungan yang bersih dan sehat tidak tercipta dari kata-kata semata, melainkan dari tindakan nyata yang dimulai dari diri sendiri. ***