Cikalpedia
”site’s ”site’s
Opini

Solusi Konflik Tenurial dan Ekologi Lereng Ciremai

R. Diah Ayu P.

Gunung Ciremai, dengan status taman nasionalnya, kini menjadi medan pertarungan ganda antara konflik tenurial atas hak asal usul desa penyangga, dan konflik ekologi akibat pembangunan yang merusak daya dukung lingkungan.

Di satu sisi, desa-desa penyangga di kaki Ciremai terperangkap dalam jerat hukum konservasi yang membuat hak asal usul mereka atas wilayah kelola tradisional sulit diakui. Mereka dituntut untuk mengelola kawasan dengan izin Kemitraan Konservasi (KK)—sebuah solusi sementara yang tidak memberikan kepastian hak milik.

Di sisi lain, praktik pariwisata massal di lereng Ciremai telah memperlihatkan wajah buruk eksploitasi. Kasus longsor yang terjadi di jalur dekat obyek wisata, seperti yang terjadi di dekat Arunika, menjadi bukti nyata bahwa alih fungsi lahan secara masif dan pembangunan yang abai telah merusak tata ruang, mengurangi daya dukung, dan mengancam keselamatan ekosistem serta masyarakat di bawahnya.

HHBK dan Getah Pinus: Solusi yang Lestari dan Terlembaga

Melihat bahaya dari pembangunan wisata yang tidak terkontrol, prioritas harus kembali pada model ekonomi yang sinergis dengan konservasi. Di sinilah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Koperasi Desa Merah Putih wajib mengambil peran sentral dalam skema Kemitraan Konservasi, yang fokus pada Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang lestari meliputi manajemen hilir HHBK dan legalitas keberlanjutan.

Manajemen Hilir HHBK berarti unit usaha ini fokus pada pengelolaan dan pemanfaatan HHBK yang low-impact dan high-value. Termasuk di dalamnya adalah getah pinus yang dapat dipanen tanpa merusak tegakan pohon, kopi Ciremai, buah-buahan endemik, atau produk agroforestri lainnya.

Kemudian legalitas dan keberlanjutan yakni BUMDes/Koperasi memiliki struktur formal yang kokoh untuk mengikat perjanjian KK dengan Balai TNGC. Ini memastikan pemanfaatan getah pinus dan HHBK lainnya dilakukan dengan metode yang bertanggung jawab, sesuai kuota, dan berkelanjutan, jauh berbeda dengan model eksploitasi berbasis alih fungsi lahan.

Baca Juga :  BEM UBHI Cetak Pemimpin Muda Adaptif dan Visioner

Ancaman Alih Fungsi Lahan vs. Kewajiban Konservasi

Related posts

Video Kelompok Remaja Bersenjata Tajam Viral di Medsos, Diduga di Garawangi

Ceng Pandi

Mewujudkan Kesadaran Politik

Ceng Pandi

Kelola Dapur Gizi, Mantan Cawabup Lounching MBG di SMP Lebakwangi

Ceng Pandi

Leave a Comment