
Penulis oleh: ika Nurkamilah dari STISHK
Kita telah memasuki tahun baru Hijriah 1448 H yang diawali dengan bulan Muharram. Bagi umat Islam, pergantian tahun ini bukan sekadar perubahan angka dalam penanggalan, melainkan momentum untuk melakukan refleksi dan evaluasi diri. Sejauh mana perjalanan kita selama setahun terakhir? Apa yang telah berhasil kita perbaiki, dan apa yang masih perlu dibenahi?
Allah SWT memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk memperbaiki arah kehidupan melalui salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan, yaitu bulan Muharram.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu…”(QS. At-Taubah: 36)
Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan bulan-bulan haram telah Allah tetapkan sejak penciptaan langit dan bumi. Empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim.
Penyebutan Muharram sebagai salah satu bulan haram menunjukkan keistimewaan tersendiri yang seharusnya disambut oleh setiap Muslim dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Dalam ayat tersebut, Allah juga mengingatkan agar manusia tidak menzalimi dirinya sendiri pada bulan-bulan yang dimuliakan ini. Bentuk kezaliman terhadap diri sendiri bukan hanya berupa dosa-dosa besar, tetapi juga segala bentuk kemaksiatan yang menjauhkan seseorang dari Allah.
Jangan sampai kita menzalimi diri sendiri. Mata seharusnya digunakan untuk melihat hal-hal yang baik, lisan untuk mengucapkan perkataan yang benar dan bijak, telinga untuk mendengarkan hal-hal yang bermanfaat, serta kaki untuk melangkah menuju kebaikan. Sebaliknya, menggunakan anggota tubuh untuk bermaksiat berarti menempatkannya pada jalan yang tidak diridhai Allah.
Sebab, kemaksiatan yang dilakukan pada bulan yang dimuliakan Allah memiliki konsekuensi yang lebih berat. Sebaliknya, amal saleh yang dilakukan pada bulan-bulan haram memiliki keutamaan dan pahala yang lebih besar di sisi-Nya. Oleh karena itu, Muharram menjadi momentum yang tepat untuk bermuhasabah, mengevaluasi diri, memperbaiki kesalahan, serta meninggalkan segala hal yang dilarang oleh Allah SWT.
Berkata kotor merupakan bentuk kezaliman terhadap lisan. Memandang sesuatu yang haram adalah kezaliman terhadap mata. Mendengarkan hal-hal yang tidak baik adalah kezaliman terhadap telinga. Begitu pula dengan anggota tubuh lainnya yang digunakan untuk melakukan kemaksiatan.
Sebagai salah satu bulan yang dimuliakan, Muharram memiliki keutamaan yang besar. Rasulullah bahkan menyebutnya sebagai Syahrullah atau “bulan Allah”. Di bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.
Rasulullah bersabda:
“Puasa pada hari Asyura, dapat menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim)
Namun, makna Muharram tidak berhenti pada ibadah ritual semata. Tahun Baru Hijriah erat kaitannya dengan peristiwa hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan hanya perpindahan tempat, tetapi juga simbol perubahan menuju keadaan yang lebih baik.
Oleh karena itu, setiap datangnya Muharram, kita diajak untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita berhijrah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan yang lebih baik? Sudahkah kita meninggalkan maksiat yang selama ini menghambat kedekatan kita dengan Allah? Ataukah kita masih berada pada titik yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya?
Di era yang serba cepat seperti saat ini, memperbaiki diri bukanlah perkara mudah. Media sosial, tuntutan akademik, pekerjaan, dan berbagai distraksi lainnya sering kali membuat kita lalai terhadap tujuan hidup yang sebenarnya. Tidak sedikit orang yang sibuk mengejar pencapaian dunia, tetapi lupa memperhatikan kualitas hubungannya dengan Allah SWT.
Muharram hadir sebagai pengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil. Mungkin kita belum mampu melakukan banyak perubahan sekaligus, tetapi kita dapat memulainya dengan memperbaiki kualitas salat, lebih rutin membaca dan memahami Al-Qur’an, menjaga lisan, memperbaiki akhlak, serta mengurangi kebiasaan-kebiasaan yang tidak bermanfaat.
Bagi mahasiswa, generasi muda, dan seluruh umat Islam, Muharram juga menjadi momen untuk menata kembali tujuan hidup. Ilmu yang dipelajari, organisasi yang diikuti, serta berbagai aktivitas yang dijalani hendaknya tidak hanya berorientasi pada prestasi duniawi, tetapi juga bernilai ibadah dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Semua aktivitas tersebut hendaknya dilandasi niat untuk meraih ridha Allah dan menjadi bekal kehidupan akhirat. Sebab, keberhasilan sejati bukan hanya tentang apa yang berhasil kita capai, melainkan tentang seberapa dekat hubungan kita dengan Allah dan seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan kepada sesama.
Rasulullah bersabda:
“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Hadis ini mengajarkan bahwa evaluasi diri merupakan ciri orang yang bijaksana. Muharram menjadi waktu yang tepat untuk meninjau kembali perjalanan hidup, memperbaiki kesalahan, dan menyusun langkah-langkah perbaikan di masa yang akan datang.
Pada akhirnya, Muharram mengajarkan bahwa setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk memulai kembali, memperbaiki kesalahan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pergantian tahun bukan sekadar pergantian kalender, tetapi pengingat bahwa usia terus berkurang dan kesempatan beramal semakin terbatas.
Mari jadikan Muharram tahun ini sebagai titik awal hijrah menuju pribadi yang lebih baik. Sebab, keberhasilan seorang Muslim tidak diukur dari bergantinya tahun, melainkan dari bertambahnya keimanan, ilmu, dan amal saleh yang ia lakukan.
Tahun baru telah datang. Namun, pergantian tahun tidak akan bermakna jika tidak diiringi perubahan diri. Pertanyaannya, sudahkah kita menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah daripada tahun sebelumnya?
Semoga Allah membimbing kita agar mampu menjadikan momentum Tahun Baru Hijriah ini sebagai sarana refleksi diri, memperbaiki kualitas iman dan amal, serta mengisi sisa usia dengan berbagai kebaikan yang bermanfaat di dunia maupun di akhirat kelak. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Wallahu a’lam bish-shawab.




