
KUNINGAN – Ancaman laten seputar kenakalan remaja yang meliputi seks pranikah, pernikahan dini, hingga jeratan narkotika dan obat-obatan terlarang (NAPZA) atau yang karib disebut Triad KRR kian direspons serius oleh Pemerintah Kabupaten Kuningan. Guna membentengi generasi muda dari pusaran risiko sosial tersebut, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Kuningan mengambil langkah taktis dengan mengintensifkan program pemberdayaan remaja.
Langkah dinas kali ini tidak lagi mengandalkan metode sosialisasi top-down yang kaku di dalam aula formal. Mengusung filosofi “Dari Remaja, Oleh Remaja, dan Untuk Remaja,” DPPKBP3A memilih memaksimalkan peran Duta GenRe (Generasi Berencana) sebagai garda depan. Mereka diterjunkan langsung untuk menyusup ke ruang-ruang komunal sosiologis antarsebaya demi mendongkrak partisipasi aktif remaja di lapangan yang selama ini dinilai masih minim.
Secara regulasi, ekspansi program ini memiliki posisi tawar yang kokoh. Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan telah memayunginya lewat Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2023 tentang Ketahanan Keluarga. Regulasi inilah yang melandasi gerakan operasional program strategis seperti Bina Keluarga Remaja (BKR) serta Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), di mana Duta GenRe bertindak bukan sekadar sebagai figur pajangan (role model), melainkan sebagai penggerak taktis kedinasan.
Metode Jemput Bola dan Katup Konseling Sebaya
Dalam implementasi di lapangan, DPPKBP3A membagi skema pergerakan berkolaborasi dengan UPTD Dalduk serta jaringan Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB). Akses masuk dirancang melalui dua jalur utama: jalur pendidikan yang menyasar sekolah serta universitas, dan jalur masyarakat yang langsung menyentuh pemuda di tingkat kecamatan hingga pelosok desa.
Duta GenRe Kuningan, Fahira Khoirun Nissa, mengonfirmasi bahwa pendekatan peer-to-peer (antarsebaya) menjadi hulu ledak utama agar materi perencanaan kehidupan berkeluarga dapat diterima tanpa resistensi. Remaja cenderung lebih terbuka mencurahkan problematikanya kepada sesama usia ketimbang kepada figur otoritas atau orang tua.
“Tantangan terbesar di lapangan adalah meruntuhkan sekat kecanggangan dan menumbuhkan kesadaran kultural pemuda. Karena itu, dinas memformulasikan metode ‘jemput bola’. Lewat inovasi Sekolah GenRe yang memadukan pola daring dan luring, serta aktivasi ruang konsultasi Satya Gatra di tingkat kecamatan, kami berupaya menciptakan ruang diskusi yang aman, privat, dan suportif bagi mereka,” tutur kolega Fahira, Duta GenRe Kuningan Muhammad Fatra Ramadhan.
Output Nyata dan Aktivasi Pendidik Sebaya
Gerakan masif yang diarsiteki oleh DPPKBP3A ini langsung membuahkan keluaran (output) konkret di lapangan. Pertama, terwujudnya tata kelola pembinaan dan edukasi interaktif secara berkala yang dikawal langsung oleh PLKB di berbagai wilayah desa. Kedua, berjalannya fungsi pendidik sebaya (peer educator) melalui diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion) yang memicu keberanian remaja lokal untuk mulai memetakan masa depan mereka secara terstruktur.
Terakhir, gerakan ini sukses memicu peningkatan partisipasi kultural pemuda dalam kelompok kegiatan PIK-R yang difasilitasi struktur kedinasan. Intervensi sosiologis ini diharapkan mampu mengikis kesenjangan partisipasi remaja di lapangan, sekaligus memastikan masa depan generasi muda di bawah kaki Gunung Ciremai tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan memiliki perencanaan hidup yang matang menghadapi bonus demografi. ***




