KUNINGAN — Seusai rangkaian tradisi Seren Taun Cigugur digelar awal Juni ini, perhatian masyarakat di Kabupaten Kuningan kembali mengarah pada agenda lain yang masih berkelindan dengan semangat syukur atas hasil bumi. Sangkanika dijadwalkan menggelar Panen Raya Buah Naga Kuning pada 14 Juni 2026 mendatang.

Momentum panen itu hadir dalam suasana yang belum sepenuhnya lepas dari nuansa Seren Taun, tradisi tahunan masyarakat adat Cigugur yang selama ini dikenal sebagai perayaan rasa syukur atas hasil pertanian. Dalam tradisi tersebut, relasi manusia dengan alam dan pangan ditempatkan sebagai bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat agraris.

Di tengah perkembangan sektor pertanian modern, panen buah naga kuning dinilai menjadi penanda munculnya diversifikasi komoditas hortikultura di Kabupaten Kuningan. Jika Seren Taun selama ini identik dengan padi sebagai simbol utama ketahanan pangan masyarakat, maka pengembangan buah naga kuning memperlihatkan arah baru pertanian lokal yang mulai merambah komoditas bernilai ekonomi lebih tinggi.

General Manager Sangkanika, Ismi, mengatakan panen raya itu tidak sekedar dipandang sebagai kegiatan produksi pertanian semata. Menurut dia, terdapat nilai syukur dan penghormatan terhadap alam yang tetap dijaga dalam proses pengembangan pertanian modern.

“Seren Taun mengajarkan kita untuk tidak pernah lupa berterima kasih kepada bumi. Panen Raya Buah Naga Kuning pada 14 Juni nanti kami maknai sebagai perayaan atas kerja keras, proses pertanian, dan hasil dari tanah yang subur,” kata Ismi, belum lama ini.

Buah naga kuning sendiri mulai menarik perhatian karena memiliki karakteristik berbeda dibanding buah naga merah yang lebih umum ditemukan di pasaran. Selain tingkat kemanisan yang lebih tinggi, komoditas ini juga dinilai memiliki pasar khusus yang terus berkembang.

Pengembangan buah naga kuning di Kuningan dilakukan dengan melibatkan petani lokal. Sangkanika menyebut pendekatan budidaya yang digunakan diarahkan pada praktik pertanian berkelanjutan. Meski demikian, keberhasilan pengembangan komoditas tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari konsistensi produksi, kualitas hasil panen, hingga perluasan akses pasar.

Di sisi lain, agenda panen raya ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat agraris di Kuningan berupaya menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Tradisi Seren Taun tetap dipertahankan sebagai simbol penghormatan terhadap alam, sementara sektor pertanian terus bergerak mengikuti perkembangan kebutuhan pasar dan peluang ekonomi baru.

Panen Raya Buah Naga Kuning yang akan berlangsung pekan depan diharapkan menjadi ruang untuk memperlihatkan potensi hortikultura daerah. Lebih dari agenda panen, kegiatan itu menjadi bagian dari cerita panjang masyarakat Kuningan dalam merawat tradisi pertanian sambil beradaptasi dengan perubahan zaman. ***