
KUNINGAN – Warga Kabupaten Kuningan sempat dikejutkan dengan getaran gempa bumi tektonik yang terjadi pada Jumat malam (29/5/2026) sekitar pukul 22.37 WIB. Meski berkekuatan relatif kecil, getaran gempa tersebut dirasakan oleh sejumlah warga di beberapa wilayah Kabupaten Kuningan.
Iman Septiana, salah seorang warga Desa Sukamukti, Kecamatan Jalaksana, mengungkapkan dirinya merasakan getaran singkat saat sedang berada di dalam rumah.
”Pantesan seperti ada yang bergetar, ternyata gempa. mudah-mudahan semua selamat,” ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa memiliki magnitudo 2,5 dengan pusat gempa berada di darat, sekitar 11 kilometer barat laut Kabupaten Kuningan pada koordinat 6,88 Lintang Selatan dan 108,45 Bujur Timur. Gempa terjadi pada kedalaman 12 kilometer.
Kepala BMKG Wilayah II Tangerang, Dr. Hartanto, menjelaskan bahwa gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif di wilayah setempat.
”Hasil analisis menunjukkan gempa bumi yang terjadi termasuk kategori gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif,” jelasnya dalam keterangan resmi.
BMKG mencatat getaran gempa dirasakan di wilayah Kuningan dengan intensitas II MMI. Pada skala tersebut, getaran dirasakan oleh beberapa orang dan benda-benda ringan yang digantung tampak bergoyang.
Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat laporan kerusakan bangunan maupun korban akibat peristiwa tersebut. Kondisi masyarakat juga dilaporkan tetap aman dan aktivitas berjalan normal.
BMKG juga memastikan bahwa hingga pukul 23.07 WIB, hasil pemantauan belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Informasi resmi terkait aktivitas gempa bumi hanya bersumber dari BMKG melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi.
Pihaknya mengingatkan masyarakat agar selalu mengakses informasi kebencanaan melalui website resmi, aplikasi BMKG, maupun media sosial resmi BMKG guna menghindari penyebaran informasi yang tidak benar atau menyesatkan.
“Informasi resmi bisa diakses melalui web resmi, aplikasi BMKG, maupun media sosial resmi BMKG,” tutupnya.




