KUNINGAN – Sebuah kebakaran terjadi di Desa Ciawigebang, Kecamatan Ciawigebang, Rabu (14/1/2025) malam. Si jago merah yang melahap sangat cepat gudang dan isinya itu diduga karena arus pendek atau konsleting listrik. Api tidak bisa dikendalikan sejak awal karena diduga, tempat usaha itu tidak menyediakan proteksi kebakaran.

Dalam waktu kurang dari lima jam, H. Warsan, pemilik gudang tersebut, harus rela hati menelan kerugian mencapai 540 juta. Setelah dilakukan asesment oleh Damkar Satpol PP Kuningan, ternyata tempat usaha itu tidak memiliki proteksi kebakaran, termasuk APAR atau alat pemadam api ringan.

“Tidak ada (Apar dan sistem pencegahan kebakaran),” tutur Kepala UPT Damkar Satpol PP Kuningan, Andri Arga Kusumah, Kamis (15/1/2025).

Kebakaran bermula saat, Abdul Ajid, Syaiful, dan Didin, keluar sekitar pukul 20.50 WIB ketiga karyawan itu pergi untuk mencari makan setelah memastikan gudang aman dan terkunci. Tidak lama berada di luar, sepuluh menit kemudian ketiganya kembali dan mendapati api sudah membesar.

“Kebakaran di Blok Cilombang Desa Ciawigebang itu sebetulnya rumah permanen di tengah-tengah padat penduduk yang dijadikan gudang stok penjualan plastik dan kertas. Itu sangat beresiko dan riskan dari kebakaran,” tuturnya.

Laporan kebakaran yang diterimanya juga terhitung telat. Sehingga tim pemadam yang tergabung dalam dua Randis juga baru tiba di lokasi hampir satu jam kemudian tepatnya pukul 21.25 WIB. Belum lagi, ketika evakuasi dilakukan, petugas sempat kesulitan karena banyak bahan mudah terbakar, berbahaya, dan beracun serta akses suplai air yang cukup jauh dan terbatas.

‎”Api yang sudah menghanguskan sebagian gudang itu awalnya coba dipadamkan oleh warga, sambil salah satunya melapor ke kami. Kami langsung turun dan api baru bisa padam setelah 3 jam berjibaku,” tuturnya.

Menurutnya, musibah kebakaran yang menyebabkan kerugian ratusan juta semacam itu bukan kali pertama terjadi di Kuningan. Masyarakat Kuningan, terutama para pengusaha atau pedagang, harus sudah peduli dan siaga menyiapkan alat proteksi dini dan memastikan gudang yang digunakan aman dari potensi tersebut. Karena setidaknya, ketika tersedia sistem proteksi kebakaran, potensi awal kebakaran bisa segera ditangani maksimal sebelum tim Damkar tiba.

“Kami menghimbau, para pengusaha atau pedagang tidak mengalihfungsikan rumah, apalagi jika diisi barang atau bahan yang mudah terbakar. Resiko kebakarannya tinggi. Kalau punya potensi bisnis, usahakan gudang yang berpotensi mudah terbakar jauh dari pemukiman warga dan kontruksinya mendukung,” himbaunya.

Dengan kesiapsiagaan bersama, Andri berharap, musibah kebakaran tidak terus terulang dan menyebabkan kerugian besar. Apalagi, di tengah iklim investasi daerah dan penguatan ekonomi masyarakat, semua pihak harus kerjasama membangun ekosistem bisnis yang aman dan mendukung keselamatan bersama. (Icu)