Cikalpedia
”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s
Opini

Koneksi Ideologi dan Survival

Komisioner KPU Kuningan, Maman Sudiaman

KONEKSI atau jejaring menjadi satu dari banyak faktor yang menentukan seseorang bisa survive dan berkembang. Di dalam sejarah manusia, bertahan hidup merupakan hal yang paling penting, karena menjadi kebutuhan dasar yang tidak bisa dihilangkan.

Di dalam kaidah Bahasa Indonesia, kata jejaring atau jaringan memiliki makna yang hampir sama. Di dalam konteks biologi, misalnya, jaringan didefinisikan sebagai susunan sel-sel khusus yang memiliki fungsi dan bentuk yang sama. Kemudian di dalam konteks informasi teknologi jaringan, atau sering disebut network, merupakan sekumpulan perangkat yang saling terhubung satu sama lain. Substansi dari dua definisi tersebut memiliki makna yang sama yaitu satu kesatuan, kesamaan, saling terhubung dan fungsi yang sama.

Maka pantas jika Ronald Burt, pakar sosiologi dan bisnis terkemuka menegaskan dalam bukunya Celah Struktural (Structural Holes) bahwa kesuksesan diraih oleh mereka yang mampu menghubungkan dua kelompok yang sebelumnya tidak saling mengenal. Kesuksesan erat kaitannya dengan kemampuan mengisi celah atau holes.

Artinya, definsi jaringan dalam konteks dinamika kehidupan juga sama, yaitu manusia yang cepat berkembang dialah yang memiliki jaringan dan mampu menata atau mengelolanya. Tetapi, apakah jaringan itu bisa secara otomatis terbentuk melalui faktor lingkungan? Misalnya saat kuliah mahasiswa mengenal dosen dan mahasiswa lainnya, atau di lingkungan kerja seseorang mengenal atasan dan sejawatnya bisa disebut sudah berjejaring?.

Perlu dicatat, dua contoh tersebut hanya menggambarkan lingkungan, bukan jaringan. Lingkungan terbentuk secara alami, sedangkan jaringan dibentuk secara khusus. Saat kuliah, seseorang dipastikan memiliki segudang daftar nama, bersosialisasi saat bertemu, dan saling menyapa. Itulah lingkungan.

Berbeda dengan jaringan, dari banyaknya teman kuliah, hanya ada beberapa orang saja yang dianggap memiliki kesamaan chemistri, atau istilah kekiniannya disebut sefrekuensi. Hal ini disebabkan oleh seleksi alam, dimana satu sama lain akan saling mencari dan bertemu sesuai dengan pikiran dan kepentingan yang sama.

Seiring perjalanan waktu, kesamaan pikiran dan kepentingan itu menjadi kekuatan nyata untuk membangun sesuatu yang baik, apakah bisnis, politik, atau karir. Hanya saja, dari sekian banyak kesamaan, jaringan yang kokoh dan humanis lahir dari kesamaan ideologi. Perbedaannya signifikan dengan jaringan yang dibangun atas kesamaan politik apalagi prihal pragmatis.

Baca Juga :  Wabup Tuti Sidak Puskesmas, Soroti Ambulans Usang dan Layanan Ramadan

Lalu, apakah jaringan itu tumbuh berkembang secara alami? Tentu saja tidak. Jaringan dalam konteks apapun perlu maintenance atau perawatan yang baik dan terus menerus. Upaya maintenance ini, dengan berbagai gaya dan strateginya, menjadi faktor penting supaya jaringan atau koneksi antar individu bisa kuat dan tumbuh secara berkelanjutan serta mencapai tujuan yang diharapkan.**

Penulis: Maman Sudiaman, Komisioner KPU Kuningan