KONEKSI atau jejaring menjadi satu dari banyak faktor yang menentukan seseorang bisa survive dan berkembang. Di dalam sejarah manusia, bertahan hidup merupakan hal yang paling penting, karena menjadi kebutuhan dasar yang tidak bisa dihilangkan.
Di dalam kaidah Bahasa Indonesia, kata jejaring atau jaringan memiliki makna yang hampir sama. Di dalam konteks biologi, misalnya, jaringan didefinisikan sebagai susunan sel-sel khusus yang memiliki fungsi dan bentuk yang sama. Kemudian di dalam konteks informasi teknologi jaringan, atau sering disebut network, merupakan sekumpulan perangkat yang saling terhubung satu sama lain. Substansi dari dua definisi tersebut memiliki makna yang sama yaitu satu kesatuan, kesamaan, saling terhubung dan fungsi yang sama.
Maka pantas jika Ronald Burt, pakar sosiologi dan bisnis terkemuka menegaskan dalam bukunya Celah Struktural (Structural Holes) bahwa kesuksesan diraih oleh mereka yang mampu menghubungkan dua kelompok yang sebelumnya tidak saling mengenal. Kesuksesan erat kaitannya dengan kemampuan mengisi celah atau holes.
Artinya, definsi jaringan dalam konteks dinamika kehidupan juga sama, yaitu manusia yang cepat berkembang dialah yang memiliki jaringan dan mampu menata atau mengelolanya. Tetapi, apakah jaringan itu bisa secara otomatis terbentuk melalui faktor lingkungan? Misalnya saat kuliah mahasiswa mengenal dosen dan mahasiswa lainnya, atau di lingkungan kerja seseorang mengenal atasan dan sejawatnya bisa disebut sudah berjejaring?.
Perlu dicatat, dua contoh tersebut hanya menggambarkan lingkungan, bukan jaringan. Lingkungan terbentuk secara alami, sedangkan jaringan dibentuk secara khusus. Saat kuliah, seseorang dipastikan memiliki segudang daftar nama, bersosialisasi saat bertemu, dan saling menyapa. Itulah lingkungan.
