Cikalpedia
”site’s ”site’s
Politik

Melawan Apatisme Politik: Sekolah Jadi Medan Baru Pendidikan Demokrasi

foto: Istimewa

KUNINGAN — Aula SMK Negeri 3 Kuningan, Senin (26/1/2026), tidak diisi deru mesin praktik atau presentasi kejuruan seperti biasanya. Ratusan siswa duduk berhadapan dengan topik yang kerap dianggap jauh dari dunia mereka: demokrasi, politik, dan masa depan partisipasi warga negara. Kehadiran Hj. Ika Siti Rahmatika, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, melalui program “DPRD Mengabdi Dalam Pendidikan Demokrasi”, menandai upaya membawa pendidikan politik ke ruang kelas  tempat yang kini dipandang sebagai medan baru melawan apatisme pemilih muda.

Di tengah banjir informasi digital, generasi Z menghadapi paradoks: akses informasi melimpah, tetapi literasi politik minim. Hoaks, narasi sinis terhadap lembaga negara, dan persepsi bahwa politik tidak berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari mendorong sebagian pemilih pemula memilih golput. Fenomena ini menjadi alarm bagi kualitas demokrasi di masa depan.

Ika menegaskan bahwa pendidikan demokrasi tidak boleh berhenti pada teori kewarganegaraan. Ia harus hadir sebagai pengalaman belajar yang konkret dan relevan dengan kehidupan siswa.
“Demokrasi bukan hanya soal mencoblos saat pemilu. Ini tentang cara berpikir, menghargai perbedaan, dan berani menyuarakan kepentingan bersama,” ujarnya di hadapan para pelajar.

Dalam pemaparannya, ia memperkenalkan fungsi legislatif legislasi, penganggaran, dan pengawasan dengan bahasa yang mudah dipahami. Pendekatan ini bertujuan meruntuhkan kesan bahwa DPRD adalah institusi yang jauh dan elitis. Bagi siswa, memahami bagaimana kebijakan lahir dan diawasi menjadi pintu masuk untuk melihat bahwa politik memiliki dampak nyata, mulai dari pendidikan hingga lapangan kerja.

Salah satu sorotan utama adalah peran media sosial dalam membentuk persepsi politik. Ika mengingatkan bahwa ruang digital sering menjadi ladang subur disinformasi yang merusak kepercayaan publik. Karena itu, ia mendorong siswa untuk menjadi pengguna media yang kritis: memverifikasi informasi, menolak provokasi, dan tidak mudah terjebak dalam polarisasi.

Baca Juga :  Budidaya Ikan dan Ayam Petelur jadi Prioritas BUMDes Cinagara

Related posts

Tak Bayar Pajak, Reklame Pusat Gadai di Kuningan Disegel

Cikal

Air Tanah Terancam, Pemuda Muhammadiyah Serukan Gerakan Konservasi Di Kuningan

Cikal

Abdul Haris: Kritik ke DPRD Kuningan Dinilai Ancam Demokrasi

Alvaro