Cikalpedia
”site’s
Sosok

Jejak Sungkono Pembuat Tugu Angklung Kuningan

KUNINGAN – Sungkono (65) merupakan seniman asal Cirebon yang membuat tugu angklung sebagai simbol pelestarian musik tradisional Sunda yang berkembang di Kabupaten Kuningan. Tugu tersebut kini berdiri tegak di Jl. Lingkar Cipari – Cisantana.

‎Sungkono mengaku perkenalannya dengan dunia seni sudah dimulai sejak usia dini, tepatnya saat duduk di bangku sekolah dasar sekitar tahun 1970. Pada saat itu, ia mencoba membuat relief wayang bersama sang ayah.

‎”Awal membuat karya itu bersama orang tua. Setelah berhasil membuat gambar wayang, kemudian saya mencoba membuat karya lainnya yaitu mendesain kereta kencana Keraton Solo dan Cirebon lewat relief,” ujarnya, Selasa, (17/3/2026).

‎Seiring berjalannya waktu, kemampuan, Sungkono, dalam bidang seni rupa semakin berkembang. Ia mulai mengeksplorasi berbagai bentuk karya, mulai dari relief, patung, hingga ornamen bernuansa budaya lokal. Kecintaannya terhadap kesenian tradisional menjadi landasan utama dalam setiap karya yang dihasilkannya.

‎Menurutnya, seni itu dirasakan bukan hanya sebagai bentuk keindahan visual, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan nilai, pesan, dan identitas budaya kepada masyarakat.

‎”Seni itu sudah jadi jantung denyut saya. Selama saya masih bisa berkarya, saya akan terus membuat sesuatu yang bermanfaat bagi budaya,” katanya.

‎Dalam pembuatan tugu angklung, Ia hanya menerima desain yang sudah disiapkan oleh pihak pemesan. Meski demikian, Sungkono tetap memberikan sentuhan artistiknya agar hasil akhir tetap memiliki nilai estetika tinggi tanpa menghilangkan makna dari desain yang telah ditentukan.

‎Bahan yang digunakan di antaranya pipa dengan berbagai ukuran serta plat besi yang dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai susunan angklung. Ia menjelaskan, proses pengerjaan dilakukan dengan penuh ketelitian, terutama dalam membentuk detail angklung agar terlihat proporsional dan menyerupai bentuk aslinya. Selain itu, pemilihan material juga menjadi perhatian penting agar tugu dapat bertahan lama dan aman.

Baca Juga :  Dilema Ruang, Kuasa, dan Masa Depan yang Dijual

‎”Pengerjaannya itu selama 15 hari dan melibatkan delapan orang. Desainnya itu memang sudah disediakan tetapi dalam pengerjaan tetap saya sesuaikan supaya hasilnya lebih hidup dan kuat secara visual,” ungkapnya.

‎Hambatan hujan sempat menjadi kendala dalam proses pengerjaan tugu tersebut. Cuaca yang tidak menentu membuat pekerjaan beberapa kali harus dihentikan sementara, terutama pada tahap pengecoran dan finishing. Meski demikian, Sungkono bersama tim tetap berupaya menyelesaikan pekerjaan sesuai target waktu yang telah ditentukan. Ia mengaku harus mengatur ulang jadwal kerja agar proses pengerjaan tetap berjalan optimal tanpa mengurangi kualitas hasil akhir.

‎”Kendala itu di cuaca sering hujan, jadi harus menunggu cuaca yang pas untuk merangkai menjadi bentuk angklung,” katanya.

‎Selain tugu angklung, Sungkono juga telah menyumbangkan berbagai karya seni di Kabupaten Kuningan. Di antaranya Patung Ikan Dewa di Desa Sampora, tugu Kujang di Kecamatan Garawangi, gapura KIC milik pemerintah daerah, serta lambang Garuda Pancasila yang terpasang di Kantor Pemda Kuningan. Ia juga membuat lukisan pahat wajah mantan Bupati Kuningan, Acep Purnama, serta Patung Kuda di Desa Kaduagung.

‎Tak hanya di Kuningan, karyanya juga tersebar di luar daerah. Sungkono diketahui membuat patung udang yang berada di depan Kantor Wali Kota Cirebon, serta lukisan pahat logam bergambar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Putri kesayangannya.

‎Sebagai penutup, Ia mengajak kepada anak muda untuk tidak melupakan budaya sendiri di tengah pesatnya perkembangan zaman. Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga dan meneruskan warisan seni tradisional agar tidak tergerus modernisasi. (Icu)