
KUNINGAN — Proyek penerangan jalan umum (PJU) bertajuk Kuningan Caang kembali menjadi sorotan. Alih-alih menghadirkan terang bagi ruas-ruas jalan, program yang dibiayai dari APBD Provinsi Jawa Barat itu justru menyisakan tanda tanya. Meskipun proses penyelidikan dari aparat penegak hukum belum tuntas, namun dugaan pembengkakan anggaran bahkan disebut tak wajar mengemuka dari sejumlah kalangan, termasuk pelaku usaha di sektor perlengkapan penerangan jalan.
Salah satunya datang dari Fajar Sidik Ramadi, atau yang akrab disapa Ajay. Ia bukan nama baru dalam bisnis lampu jalan dan aksesorinya. Selama ini, Ajay lebih banyak mengerjakan proyek di luar Kabupaten Kuningan. Namun, ketika membaca rincian anggaran biaya (RAB) proyek Kuningan Caang, ia mengaku terkejut.
“Sebetulnya sederhana kalau mau ditelusuri. Tinggal buka RAB, lalu cocokkan dengan harga pasar. Inspektorat pasti punya kemampuan itu,” ujar Ajay Senin (31/3/2026) malam.
Menurut dia, perbedaan harga dalam beberapa item bukan lagi sekadar selisih wajar. Ajay mencontohkan sejumlah komponen kecil yang nilainya melonjak berkali lipat. Harga link buckle di pasaran, misalnya, berkisar Rp800 hingga Rp1.000 per unit. Namun dalam dokumen RAB, nilainya tercatat mencapai Rp21 ribu lebih. Hal serupa terjadi pada stopper buckle yang di pasaran hanya Rp500, tetapi dalam RAB menjadi Rp13 ribu.
“Kalau selisihnya masih masuk akal, mungkin bisa dimaklumi sebagai keuntungan. Tapi ini sudah jauh sekali. Item kecil tapi di markup sangat besar,” katanya.
Tak hanya soal harga satuan, Ajay juga menyoroti volume kebutuhan material yang dinilai janggal. Dalam hitungannya, satu tiang PJU rata-rata hanya membutuhkan dua stopper buckle. Namun jika jumlah tiang sekitar 1.900 unit, maka kebutuhan idealnya tak lebih dari 3.800 unit.
“Kalau sampai ribuan lebih dari itu, patut dipertanyakan,” ujarnya.
Kejanggalan lain, lanjut Ajay, muncul pada biaya pemasangan kabel. Dalam RAB, harga kabel NYM disebut masih dalam batas wajar. Namun ongkos pemasangannya justru melonjak tajam, mencapai lebih dari Rp140 ribu per meter. Padahal, untuk satu titik tiang, kebutuhan kabel hanya sekitar tiga hingga lima meter.
“Ini kabel udara, bukan kabel tanam yang perlu penggalian. Harusnya jauh lebih murah,” kata dia.
Sorotan juga diarahkan pada item pergelaran kabel jenis lain yang dihargai puluhan ribu rupiah per meter, hingga biaya bekisting pondasi yang mencapai Rp300 ribu per meter persegi. Ajay mempertanyakan spesifikasi pekerjaan yang membuat harga tersebut membengkak.
Ia bahkan menyinggung komponen angkur yang semestinya sudah termasuk dalam paket pembelian tiang PJU, namun tetap dimasukkan sebagai biaya tambahan.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pihak terkait mengenai rincian tersebut. Namun Ajay berharap, polemik ini tidak dibiarkan berlarut.
“Kalau memang tidak ada masalah, ya dibuka saja. Supaya jelas. Tapi kalau ada kelebihan, harus dipertanggungjawabkan,” ujarnya. (Ali)




