Cikalpedia
”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s
Pendidikan

“Puasa Gadget” Berbuah Medali: Bupati Kuningan Apresiasi Kedua Cucu Pemilik RS Juanda

Bupati Kuningan H. Dian Rachmat Yanuar berfoto bersama dengan Finza dan Auriz bersama ibu dan neneknya yang juga pemilik RS Juanda Kuningan

KUNINGAN — Pendopo Kabupaten Kuningan, yang biasanya kaku dengan urusan birokrasi, mendadak berubah menjadi ruang hangat penuh haru. Hari itu, Bupati Kuningan duduk dengan dua talenta muda yang baru saja pulang dari “medan laga” di Australia, mereka adalah Finza Athariz dan Auriz Azaria. Namun, di balik kemilau medali perak dan sertifikat internasional yang mereka tenteng, terungkap sebuah pola asuh yang barangkali dianggap ekstrem bagi generasi milenial: pembatasan gadget hingga hitungan menit per minggu.

Kepala SMP Negeri 1 Kuningan, Adang Kusdiana, tak mampu menyembunyikan binar bangganya. Baginya, Auriz Azaria bukan sekadar siswa yang unggul di kelas, melainkan prototipe dari visi sekolah yang ingin mengejar standar global tanpa menanggalkan akar budaya. “Auriz telah membuktikan bahwa siswa Kuningan tidak hanya jago kandang. Ia mampu bersaing di kancah internasional dengan kualitas yang unggul, khususnya dalam Bahasa Inggris,” ujar Adang. Ia juga menyoroti kolaborasi presisi antara sekolah dan orang tua, bahkan hingga urusan administratif visa yang rumit, sebagai kunci sukses sang anak.

Senada dengan Adang, perwakilan dari Ponpes Al Multazam mengisahkan perjalanan Finza Athariz, siswa kelas 4 SDIT yang dikenal memiliki daya tahan mental luar biasa. Di tengah jadwal sekolah full day yang menguras energi, Finza tetap meluangkan waktu untuk bimbingan khusus matematika. “Ia memiliki kegigihan tinggi. Sepulang sekolah, ia masih melatih logika matematikanya. Ini adalah buah dari kemauan kuat yang tidak mudah menyerah,” ungkap pihak Al Multazam, sembari mengapresiasi inisiatif orang tua Finza yang mandiri mendaftarkan sang putra ke ajang olimpiade di luar negeri.

Benteng Pertahanan di Meja Makan

Namun, kunci rahasia dari kecemerlangan ini justru terucap dari Dr. Citra, ibunda Finza dan Auriz. Di saat orang tua lain mungkin menyerah pada tangisan anak yang meminta ponsel, Citra menerapkan kebijakan tangan besi yang edukatif. “Tantangan terbesar anak-anak saat ini adalah gadget. Kami membatasi penggunaannya agar mereka memiliki ruang eksplorasi nyata, bukan hanya terpaku pada layar,” jelasnya. Citra juga memuji dedikasi para guru yang bahkan di hari libur Sabtu tetap meluangkan waktu untuk sesi pengayaan.

Baca Juga :  Usai Petisi dan 1.000 Lilin, Siang Ini Masa Geruduk Kejari

Testimoni yang lebih mengejutkan datang dari sang nenek, tokoh Perempuan di Kuningan Hj. Rini Sujiyanti. Ia membedah sistem “insentif dan disinsentif” yang diterapkan di keluarganya. Di rumah mereka, gadget adalah barang mewah yang hanya boleh disentuh maksimal 30 menit dalam satu minggu.

“Kami menerapkan sistem poin. Jika mereka berprestasi, mengaji, atau berolahraga, mereka mendapat tambahan waktu. Jika tidak, tetap 30 menit seminggu,” ungkap Rini. Hasilnya? Finza dan Auriz tumbuh menjadi anak-anak yang gemar membaca dan memiliki minat baca yang jauh di atas rata-rata anak seusianya. Bagi Rini yang juga pemilik RS Juanda, melihat cucu-cucunya mampu bergaul dan berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris di Australia adalah bayaran tunai atas disiplin yang mereka tanam sejak dini.