KUNINGAN – Riuh obrolan politik lokal mulai terdengar menjelang bergulirnya musyawarah daerah sejumlah partai politik di Kabupaten Kuningan. Masa jabatan pengurus partai yang akan segera berakhir memunculkan kembali diskusi lama tentang regenerasi, kepemimpinan, hingga arah masa depan partai-partai besar di daerah.

Di tengah dinamika itu, sebuah tagline mendadak mencuat di kalangan kader lama Partai Demokrat: “MR is Back.”

Kalimat itu bukan sekadar celetukan biasa. Ia muncul bersamaan dengan menguatnya rasa kecewa sebagian kader terhadap kepemimpinan Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat Kabupaten Kuningan saat ini. Nama yang kemudian kembali disebut-sebut adalah Mamat Robby, figur lama Demokrat yang dinilai pernah memberi warna kuat bagi partai berlambang mercy tersebut.

Secara nasional, Partai Demokrat memang masih menjadi kekuatan politik yang diperhitungkan. Ketua umumnya kini duduk sebagai salah satu menteri koordinator dalam Kabinet Merah Putih. Namun di tingkat lokal, khususnya di Kabupaten Kuningan, kondisi Demokrat disebut-sebut sedang tidak baik-baik saja.

Perolehan kursi partai itu di DPRD Kuningan turun menjadi tiga kursi pada Pemilu terakhir. Sebelumnya, Demokrat sempat mengamankan lima kursi. Tidak hanya itu, representasi kader Demokrat dari Kuningan di tingkat provinsi maupun pusat juga hilang.

Kondisi tersebut disoroti oleh Didi Nur, salah seorang kader lama Demokrat yang kini memilih nonaktif dari kepengurusan partai. Saat ditemui usai sebuah acara, Didi berbicara cukup terbuka mengenai situasi internal Demokrat.

“Partai Demokrat sekarang seperti kehilangan ruh, kehilangan bapak, kehilangan figur,” ujarnya.

Didi pernah menjadi pengurus PAC Demokrat Kecamatan Garawangi. Ia mengaku masih mengikuti perkembangan partai yang pernah membesarkan namanya itu. Menurut dia, banyak kader lama kini tak lagi berada dalam struktur kepengurusan.

“Ada yang mundur, ada yang diberhentikan dan diganti dengan pengurus baru. Itu memang hak prerogatif ketua DPC. Tapi pertanyaannya, apakah itu berdampak pada kemajuan partai?” katanya.

Alih-alih berkembang, Didi menilai Demokrat justru mengalami kemunduran politik cukup jauh. Ia menyebut basis suara partai di sejumlah wilayah mengalami penurunan drastis.

“Dulu waktu saya masih jadi ketua PAC, Demokrat masuk lima besar di wilayah saya. Sekarang turun jauh, bahkan nyaris tidak diperhitungkan,” katanya.

Dalam ingatan Didi, masa ketika Mamat Robby maju dalam kontestasi Pilkada berpasangan dengan Momon Rochmana menjadi salah satu periode ketika Demokrat memiliki gairah politik yang kuat.

“Secara langsung atau tidak langsung, waktu itu Demokrat ikut terangkat. Kader semangat, mesin partai hidup,” ucapnya.

Karena itu, ia berharap Mamat Robby kembali aktif memimpin Demokrat Kuningan. Menurut dia, figur yang akrab disapa MR itu dianggap mampu mengayomi kader lama maupun generasi baru.

“Kalau Haji Robby mau memimpin Demokrat lagi, saya yakin banyak kader lama bakal turun gunung lagi. Tidak ada pilihan lain kalau Demokrat mau maju dan berkembang lagi. MR harus turun gunung,” katanya sambil tersenyum lebar.

Namun ketika dikonfirmasi terpisah mengenai kemungkinan kembali aktif di panggung politik Demokrat, Mamat Robby memilih merespons santai. Saat dihubungi media di sela kegiatannya di Jakarta, ia justru tertawa mendengar pertanyaan tersebut.

“Ah, jangan bikin gosip,” katanya singkat diselingi tawa khasnya.

Ia lalu meminta maaf karena sedang menghadiri sebuah acara dan belum bisa memberikan tanggapan lebih jauh.

Meski demikian, munculnya kembali nama Mamat Robby setidaknya memperlihatkan satu hal bahwa sebagian kader Demokrat Kuningan tampaknya sedang merindukan figur pemersatu di tengah situasi partai yang dinilai kehilangan arah. ***