
KUNINGAN – Setelah sukses menggelar penghargaan untuk masyarakat, komunitas Waroeng Rakyat kembali hadir memberi ruang khusus para pelajar. Salah satu yang akan digelar yaitu kompetisi dalam bentuk Ciremai Smart Competition.
Kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan ruang bagi pelajar khusus penerima Program Indonesia Pintar (PIP). Mengusung semangat “Membuktikan Kemampuan, Menyalakan Harapan”, Ciremai Smart Competition tidak hanya diarahkan untuk mencari juara. Kompetisi tersebut menjadi ruang bagi siswa penerima PIP untuk menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang dalam meraih prestasi dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Sekretaris Pelaksana, Angga Dikrillah, mengatakan persyaratan sebagai penerima PIP sengaja diterapkan untuk menghadirkan kompetisi yang inklusif sekaligus memberikan panggung kepada siswa yang selama ini mungkin merasa minder karena kondisi ekonomi.
Menurutnya, penerima PIP memiliki kesempatan dan kemampuan yang sama untuk berprestasi. Melalui kompetisi tersebut, para peserta diharapkan mampu membangun kepercayaan diri serta menunjukkan daya saingnya.
“Penerima PIP memiliki ruang dan panggung yang sama. Ini ajang pembuktian bahwa penerima PIP mampu untuk bersaing dan menunjukkan kemampuannya,” ujarnya saat konferensi pers disalah satu cafe di Kabupaten Kuningan, Kamis, (1/10/2026).
CSC juga ingin mengubah stigma yang selama ini melekat pada penerima bantuan pendidikan. Status sebagai penerima PIP tidak semestinya dipandang sebagai keterbatasan, tetapi dapat menjadi motivasi untuk terus berkembang dan mengukir prestasi.
Selain kemampuan akademik, kompetisi tersebut diharapkan dapat membangun mental juara. Para siswa didorong untuk percaya diri, berani berkompetisi, dan memiliki motivasi untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah yang mereka cita-citakan.
Ketua Pelaksana, Rheza Amarullah, menjelaskan bahwa pendaftaran Ciremai Smart Competition dibuka selama hampir tiga pekan, mulai 1 hingga 24 Oktober. Setelah pendaftaran ditutup, panitia akan melakukan verifikasi kelayakan sekolah pada 25 Oktober, dilanjutkan dengan technical meeting pada 26 Oktober.
Tahapan berikutnya adalah passing grade pada 7 November. Dalam tahap ini, setiap sekolah dapat mengirimkan tiga siswa dan satu guru pendamping. Peserta akan mengerjakan soal secara daring melalui formulir elektronik yang disediakan panitia.
Dari seluruh peserta, panitia akan menetapkan 10 sekolah terbaik untuk melaju ke babak berikutnya. Sepuluh sekolah tersebut kemudian dibagi menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri dari lima sekolah.
Babak penyisihan hingga grand final akan digelar pada 28 November. Dari dua kelompok tersebut akan dipilih masing-masing dua sekolah terbaik untuk melaju ke babak grand final.
Materi yang diujikan dalam Ciremai Smart Competition meliputi Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
Panitia juga menekankan pentingnya transparansi dalam pelaksanaan passing grade. Proses pengerjaan dilakukan secara daring sehingga hasil penilaian dapat diketahui secara langsung.
Dalam penyelenggaraannya, Ciremai Smart Competition mendapat dukungan melalui rekomendasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan serta Kementerian Agama Republik Indonesia. Kegiatan tersebut juga menggandeng Ikatan Alumni IPMK Yogyakarta.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam kompetisi tersebut yaitu rencana kolaborasi dengan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). Panitia berharap keterlibatan Puspresnas dapat memberikan nilai tambah bagi peserta, khususnya dalam mendorong motivasi siswa untuk terus berprestasi dan mempersiapkan diri menuju jenjang pendidikan berikutnya.
Penyelenggara menegaskan bahwa Ciremai Smart Competition menggunakan sumber anggaran non APBD dan dibangun melalui semangat kolaborasi berbagai pihak.
Dengan kompetisi tersebut, penerima PIP tidak hanya ditempatkan sebagai penerima bantuan pendidikan, tetapi juga sebagai pelajar yang memiliki potensi, kemampuan, dan kesempatan untuk berprestasi.***





