KUNINGAN – Luapan air di jalan menuju Palutungan dan pamainya anggapan di media sosial yang menyebut bahwa penyebabnya adalah pembangunan kawasan wisata di Palutungan akhirnya ditanggapi langsung oleh Kepala Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Ano Suratno.

Ano menegaskan, peristiwa meluapnya air yang terjadi saat hujan deras bukan disebabkan oleh pembangunan wisata, melainkan karena kapasitas drainase yang sudah tidak mampu menampung debit air dari kawasan permukiman warga.

“Kalau dari wisata tidak ada kaitannya. Ini lebih cenderung karena aliran dari permukiman yang semuanya masuk ke drainase existing,” ujar Ano saat dikonfirmasi Cikalpedia.id, Minggu (17/5/2026).

Menurutnya, air hujan yang meluap ke badan jalan berasal dari beberapa titik aliran di kawasan permukiman seperti  masjid, hingga arah Ipukan. Seluruh aliran tersebut bermuara ke drainase di sisi jalan menuju kawasan wisata Palutungan.

Namun, kondisi drainase yang sempit dan dangkal membuat air tidak tertampung ketika intensitas hujan tinggi.

“Aliran dari beberapa jalur itu masuk ke drainase kiri kanan jalan. Karena ukurannya kecil dan tidak terlalu dalam, akhirnya air tidak tertampung dan meluap ke jalan,” katanya.

Ano menjelaskan, titik luapan terjadi mulai dari kawasan Arunika hingga pertigaan Blok Kubang. Meski sempat menggenangi jalan dan mengganggu akses kendaraan, ia memastikan tidak ada rumah warga yang terdampak.

“Tidak terdampak ke rumah penduduk. Ini lebih ke luapan air hujan yang masuk ke jalan,” ucapnya.

Ia juga menyoroti minimnya sistem resapan air di lingkungan masyarakat. Banyak rumah, kata dia, belum memiliki sumur resapan maupun biopori sehingga air hujan langsung dialirkan ke selokan dan menambah beban drainase.

“Run off air hujan dari atap rumah semuanya masuk ke drainase. Akhirnya beban saluran semakin besar dan tidak mampu menampung,” jelas Ano.

Lebih lanjut, Ano menilai kawasan wisata seperti Buper Ipukan maupun Sukageuri justru masih memiliki area resapan yang cukup baik. Karena itu, ia membantah jika pembangunan wisata disebut sebagai faktor utama penyebab luapan air.

Pihak desa sendiri telah melaporkan persoalan tersebut kepada Camat Cigugur, Dinas PUTR Kabupaten Kuningan, hingga Bupati Kuningan agar dilakukan penanganan jangka panjang.

Ia berharap pemerintah segera melakukan revitalisasi drainase secara menyeluruh dengan pembangunan saluran berbahan beton dan kapasitas lebih besar agar mampu menampung debit air saat hujan deras.

“Kalau drainasenya tidak dibenahi, jalan akan terus rusak meskipun diperbaiki berulang kali,” tutupnya.