KUNINGAN – Korporasi ritel modern tampaknya kian agresif mengambil peran dalam memotong rantai darurat pertumbuhan anak. Di tengah upaya nasional menekan prevalensi tengkes (stunting), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) resmi memperluas ekspansi jangkauan program kemanusiaan berkelanjutan bertajuk “Satu Telur Sehari” sepanjang tahun anggaran 2026.

Memasuki tahun keempat pelaksanaannya sejak diinisiasi pada 2022 lalu, intervensi gizi ini diperluas secara masif ke 39 kota/kabupaten di Indonesia. Targetnya tak main-main yaitu mendistribusikan lebih dari 510.000 butir telur ayam segar yang menyasar khusus pada 2.700 anak balita yang terindikasi mengalami perlambatan tumbuh kembang akibat malnutrisi kronis.

Kabupaten Kuningan didapuk menjadi salah satu titik episentrum realisasi program pada medio Mei hingga Oktober 2026 ini. Bertempat di Posyandu Seroja, Kecamatan Kramatmulya, sedikitnya 35 anak balita setempat dikunci sebagai penerima manfaat intervensi protein hewani tersebut. Secara periodik selama tiga hingga enam bulan ke depan, pasokan telur akan dipasok melalui koordinasi ketat bersama kader posyandu dan dinas kesehatan setempat.

Rapor Hijau Tren Intervensi Makro

Pilihan Alfamart untuk menjatuhkan pilihan pada komoditas telur bukan tanpa kalkulasi akademis. Karakteristik telur yang kaya akan kandungan asam amino esensial dinilai sebagai instrumen protein hewani yang paling terjangkau, mudah didapat, serta praktis untuk diolah menjadi menu harian oleh keluarga prasejahtera di pedesaan.

Kader Posyandu Seroja Kramatmulya, Euis Tati, membeberkan bahwa program “jemput bola” ini sangat efektif dalam mendongkrak status gizi harian anak di wilayahnya. “Manfaatnya instan dan langsung dirasakan masyarakat. Menariknya, program ini tidak berjalan searah. Selain membagikan telur, orang tua juga dipaksa mengikuti kelas pendampingan mengenai pola asuh biologis dan penyusunan isi piringku yang seimbang,” ujar Euis saat ditemui di sela-sela penimbangan balita.

Jika ditarik pada matriks data makro, efektivitas gerakan ini menunjukkan grafik yang fluktuatif namun cenderung progresif. Pada fase awal tahun 2022, gerakan ini menyalurkan 177.000 butir telur di 10 kota. Sempat melandai pada 2024 dengan 103.000 butir di 12 kota, program ini kembali melonjak pada 2025 dengan mendistribusikan 189.000 butir telur ke 25 kota.

Hasil audit klinis eksternal bahkan mencatat capaian impresif pada rapor 2025 yaitu rata-rata 72 persen anak penerima manfaat menunjukkan perkembangan antropometri (tinggi dan berat badan) yang positif dan keluar dari zona merah risiko tengkes.

Bukan Sekadar Kosmetik CSR

Manajemen Alfamart menegaskan bahwa program “Satu Telur Sehari” dikonstruksikan secara rigid untuk menghindari kesan program kosmetik tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) yang habis dalam satu kali seremoni. Penentuan kluster penerima manfaat sepenuhnya membebek pada basis data riil milik Dinas Kesehatan di tiap daerah guna menjamin ketepatan sasaran anggaran.

General Manager Corporate Communications Alfamart, Rani Wijaya, menegaskan bahwa esensi dari program ini terletak pada sistem pemantauan berlapis yang melibatkan instrumen posyandu. Setiap perkembangan grafik pertumbuhan anak akan dicatat secara berkala untuk mengukur efisiensi intervensi di lapangan.

“Kami tidak sekadar membagi-bagikan makanan gratis lalu selesai. Semangatnya adalah bagaimana sektor swasta bisa hadir menawarkan model intervensi sederhana yang lincah, efisien, dan terukur dalam membantu pemerintah menekan angka stunting secara nasional demi mencetak generasi unggul,” kata Rani menegaskan komitmen korporasinya. ***