
KUNINGAN – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan pelajar Kabupaten Kuningan. Safa Hafizhah, siswi kelas X SMAN 2 Kuningan, berhasil meraih Juara 3 Festival Mendongeng Suara Nusantara tingkat Provinsi Jawa Barat.
Prestasi tersebut diraih, Safa, setelah melalui persaingan ketat yang diikuti sebanyak 1.120 peserta dari berbagai daerah di Jawa Barat. Dari jumlah tersebut, Safa berhasil menembus 10 besar, kemudian melaju sebagai salah satu dari lima finalis hingga akhirnya meraih posisi tiga besar.
Dalam ajang tersebut, Safa memilih membawakan cerita Lutung Kasarung, salah satu cerita rakyat yang berasal dari Jawa Barat. Menurutnya, dalam mendongeng seorang pendongeng tidak hanya dituntut mampu menghafalkan cerita, tetapi juga harus memahami isi cerita dan pesan moral yang ingin disampaikan.
“Yang pasti kita harus tahu dulu isi ceritanya apa, supaya kita tahu pesan moral dari cerita itu apa yang bisa diambil. Itu bagian pentingnya,” ujarnya, Senin, (24/8/2026).
Ia juga menilai karakter suara menjadi salah satu kunci dalam penampilan mendongeng. Setiap pendongeng, kata Safa, memiliki karakter berbeda sehingga perubahan dan permainan suara perlu disesuaikan dengan tokoh serta alur cerita yang dibawakan.
Bakat Safa di dunia mendongeng bukan sesuatu yang baru. Ia mengaku sudah mengikuti berbagai perlombaan sejak duduk di bangku TK, sementara ketertarikannya terhadap mendongeng mulai semakin ditekuni sejak kelas 3 SD.
Bahkan, sebelum meraih prestasi di tingkat Jawa Barat, Safa telah beberapa kali menorehkan prestasi hingga tingkat nasional. Salah satunya dalam lomba Orasi Bung Karno, di mana ia berhasil meraih penghargaan video terbaik yang proses penilaiannya turut melibatkan mantan calon presiden Ganjar Pranowo.
Safa juga aktif mengembangkan bakatnya melalui komunitas Teater Sado yang telah diikutinya sejak kecil. Dalam proses persiapan lomba mendongeng, ia mendapatkan bimbingan dari Arip Hidayat, Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan.
Meski masih berusia 16 tahun dan baru memasuki jenjang SMA, Safa telah memiliki target besar untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Ia berharap prestasi yang diraih saat ini dapat menjadi pijakan untuk berkompetisi lebih tinggi, bahkan hingga tingkat internasional.
“Ke depannya ingin mengembangkan lagi minat dan bakat. Kalau bisa, juara-juaranya sampai internasional. Terakhir di nasional, kalau bisa ke internasional,” ungkapnya.
Di balik prestasinya, Safa juga mendapat dukungan penuh dari keluarga. Sejak mengikuti perlombaan di usia dini, orang tuanya selalu memberikan dukungan terhadap bakat yang dimilikinya.
Namun, di balik keberhasilannya meraih juara tingkat provinsi, Safa menyampaikan catatan mengenai minimnya dukungan langsung dari daerah saat dirinya bertanding.
Ia menyebut saat perlombaan berlangsung, peserta dari sejumlah kabupaten mendapat dukungan suporter, sementara dirinya bersama sang ibu berangkat secara mandiri tanpa pendamping maupun suporter dari sekolah ataupun pemerintah daerah.
“Untuk transportasi, makan dan lain-lain menggunakan uang pribadi,” tuturnya.
Menurutnya, kondisi tersebut cukup membuatnya prihatin. Ia berharap ke depan para pelajar Kuningan yang membawa nama daerah dalam berbagai kompetisi dapat memperoleh perhatian dan dukungan yang lebih besar.
Kendati demikian, Safa tetap menjadikan pengalaman tersebut sebagai bagian dari proses perjuangannya. Kini, siswi yang sebelumnya menempuh pendidikan di SMPN 1 Kuningan dan SDN 2 Kuningan itu bertekad terus mengasah kemampuan mendongeng, berteater, serta berbagai keterampilan berbicara di depan publik.
Dengan sederet prestasi yang telah diraih sejak usia dini, Safa menjadi salah satu talenta muda Kuningan yang berpotensi membawa nama daerah ke panggung yang lebih tinggi.
Sementara itu, Oom Romlah, guru pendamping Safa mengatakan bahwa SMAN 2 Kuningan berkomitmen memberikan ruang bagi setiap siswa untuk mengembangkan bakat dan prestasi yang dimiliki. Menurutnya, sekolah berupaya memberikan dukungan dari berbagai aspek agar potensi siswa dapat berkembang secara maksimal.
“Intinya kami ingin mendukung prestasi anak, bakat anak, apapun prestasinya, apapun bakatnya, sekolah semaksimal mungkin mendukung dari berbagai macam aspek, semoga apapun bakat mereka, sekolah bisa membantu untuk mengembangkan bakat mereka dengan baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Safa mendapatkan ruang untuk mengasah kemampuan mendongeng melalui kegiatan ekstrakurikuler Sastra di SMAN 2 Kuningan. Meskipun cakupannya bersifat umum, kegiatan tersebut menjadi wadah bagi siswa untuk berlatih tampil, mengembangkan kemampuan berbicara, serta mengekspresikan diri melalui berbagai kegiatan seni dan sastra.
“Pembinaannya itu di ekskul Sastra. Walaupun Sastra sifatnya umum, tapi Sastra akan menjadi wadah dia untuk berlatih. Di Smanda, kegiatan Sastra juga sering tampil dalam berbagai event sekolah dan acara-acara besar. Jadi kalau dia ada di wadah itu, insyaAllah kemampuannya akan semakin terasah,” jelasnya.
Selain pembinaan melalui ekstrakurikuler, Oom menyebut bahwa, Safa, juga memiliki pelatih di luar sekolah. Menurutnya, kolaborasi antara dukungan sekolah dan latihan di luar dapat menjadi modal penting baginya untuk terus meningkatkan kemampuan mendongeng dan mengembangkan bakatnya.
“Sekolah mah memberikan wadahnya, salah satunya melalui Smanda Sastra. Kalau dia masuk ke sana, insyaAllah akan semakin terasah. Apalagi dia juga punya pelatih sendiri di luar sekolah,” tutupnya.





