
KUNINGAN – Gelanggang Olahraga (GOR) Ewangga mendadak riuh. Ratusan pesilat dari pelbagai perguruan di wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) dan sekitarnya berkumpul menduduki matras kompetisi. Mereka turun gelanggang dalam Kejuaraan Pencak Silat Nasional Ciremai Fest Series 2026 yang dihelat selama tiga hari, 16 hingga 18 Juni 2026.
Hadir membuka kompetisi, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar melempar apresiasi tinggi atas inisiatif penyelenggaraan ajang tarung bebas dan seni ini. Bagi Dian, panggung olahraga bela diri seperti ini memiliki dimensi ganda yang strategis: bukan sekadar berburu medali, melainkan instrumen vital untuk pembentukan karakter sekaligus tameng pelestarian budaya adiluhung di tengah gempuran modernisasi.
Dian menegaskan, arah kebijakan pembangunan daerah di bawah kendalinya tidak boleh terjebak pada urusan fisik semata, seperti menguras anggaran untuk jalan, jembatan, atau gedung pemerintahan. Investasi pada kualitas manusia jauh lebih prinsipil.
“Pembangunan sumber daya manusia itu tidak melulu lewat jalur pendidikan formal di dalam kelas. Lewat pencak silat, anak-anak muda kita ditempa disiplinnya, dibangun mentalnya. Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat,” ujar Dian dalam pidato sambutannya di hadapan ratusan kontingen.
Melihat animo peserta yang membeludak, Dian langsung memberikan sinyal hijau agar Ciremai Fest Series dikonstruksikan sebagai agenda rutin tahunan di kalender olahraga Kabupaten Kuningan. Pemerintah daerah, kata dia, siap turun tangan memberikan sokongan regulasi dan anggaran agar skala kompetisi di tahun-tahun mendatang bisa melompat lebih besar.
Mantan Sekda Kuningan ini juga menyelipkan pesan ideologis. Ia mengingatkan para pesilat muda bahwa jurus dan helaan napas yang mereka pelajari di padepokan merupakan warisan kebudayaan takbenda dunia yang telah diakui resmi oleh UNESCO.
“Belajar silat itu bukan gagah-gahahan untuk bela diri atau sok jagoan, tapi ini soal menjaga identitas bangsa. Menang tanpa merendahkan, dan kalaupun harus kalah, tegakkan kepala. Nilai-nilai sportivitas ini yang mahal,” tutur Dian memotivasi peserta.
Ketua Panitia Pelaksana Ciremai Fest 2026, Mukhlis Aminudin, membeberkan alasan di balik pemilihan nama “Ciremai”. Menurut pria yang akrab disapa Ami ini, Gunung Ciremai bukan sekadar batas geografis atau ikon pariwisata, melainkan simbol sosiologis sumber kehidupan masyarakat Kuningan melalui mata airnya yang mengalir tanpa henti.
Semangat filosofis itulah yang diadopsi oleh SKC Prima, organisasi wadah pecinta olahraga di bawah Yayasan Prima Jati Indah yang menginisiasi ajang ini sejak November 2023 lalu untuk menumbuhkan bibit-bibit atlet berprestasi.
“Ini perhelatan pertama yang kami gagas, dan alhamdulillah respons pasar luar biasa. Tercatat ada 765 peserta yang datang dari 44 kontingen, baik perwakilan perguruan silat maupun sekolah,” kata Ami merinci peta kekuatan peserta.
Melalui tema “Jaga Tradisi, Lestarikan Budaya Pencak Silat dalam Membangun Negeri”, Ami berharap kejuaraan ini bisa menjadi ruang evaluasi berkala bagi para pelatih dan atlet usia dini untuk mengukur sejauh mana efektivitas latihan fisik yang mereka jalani selama di padepokan masing-masing. ***




