Ia menyebut, gubernur berencana menyiapkan skema jangka pendek berupa pemberian upah melalui kegiatan penghijauan dan rehabilitasi lahan. Para pekerja nantinya dapat dilibatkan dalam penanaman pohon dan pemulihan kawasan bekas tambang.
“Ada rencana pemberian upah untuk kegiatan penanaman pohon dan sebagainya. Tapi tentu itu bukan solusi permanen. Kita juga sedang memikirkan langkah jangka panjang, termasuk kemungkinan alih profesi,” kata Dian.
Bagi Dian, penutupan tambang bukan semata persoalan ekonomi, tetapi juga bagian dari upaya penataan lingkungan. Namun ia menegaskan, aspek kemanusiaan dan keberlanjutan penghidupan warga tetap menjadi prioritas.
“Kami tidak ingin masyarakat merasa ditinggalkan. Pemerintah hadir untuk mencari solusi. Mohon bersabar, karena proses ini membutuhkan koordinasi dengan provinsi,” ujarnya.
Ia berjanji akan menyampaikan perkembangan terbaru kepada warga Pasawahan dan Padabeunghar setelah proses pendataan selesai dan ada keputusan lanjutan dari pemerintah provinsi.
Penutupan tambang galian C memang menjadi titik krusial bagi wilayah tersebut. Di satu sisi, ada kepentingan penataan lingkungan, di sisi lain, ada ratusan keluarga yang bergantung pada sektor itu. Di tengah situasi tersebut, Bupati Dian berupaya menempatkan diri sebagai jembatan antara kebijakan provinsi dan kepentingan warganya menenangkan kegelisahan, sembari menunggu arah kebijakan berikutnya. (ali)
