
KUNINGAN — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menghadirkan warna berbeda di ruang-ruang kelas sekolah dasar. Bukan semata soal menu makanan, tetapi juga soal cara menyapa anak-anak. Di sejumlah sekolah dasar di Kabupaten Kuningan, pengantar makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Babakanmulya, Kecamatan Jalaksana, memilih pendekatan tak lazim yaitu mengenakan daster ala emak-emak lengkap dengan riasan wajah tebal saat membagikan paket makanan.
Pemandangan itu sontak memecah suasana formal sekolah. Di SDN 1 Sangkanerang, tawa anak-anak pecah begitu mobil pengantar MBG berhenti di halaman sekolah. Para siswa berlarian mendekat, menyambut para pengantar makanan yang tampil nyentrik namun ramah. Suasana pembagian makanan berubah menjadi momen penuh canda, jauh dari kesan kaku distribusi bantuan.
Kepala SDN 1 Sangkanerang, Lili Rolinah, S.Pd., SD, menilai pendekatan tersebut memberi efek psikologis yang positif bagi siswa. Menurut dia, cara sederhana namun hangat itu membuat anak-anak merasa lebih dekat dan nyaman.
“Kami sangat mengapresiasi kreativitas para pengantar makan gizi gratis. Anak-anak terlihat lebih senang, tidak canggung, bahkan seperti disambut keluarga sendiri. Suasana sekolah jadi lebih hangat, dan ini baik untuk psikologis serta semangat belajar mereka,” kata Lili, belum lama ini.
Lili menyebut, secara substansi Program MBG juga sangat relevan dengan kondisi sosial ekonomi siswa di sekolahnya. Mayoritas peserta didik berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Karena itu, kehadiran makan bergizi gratis dirasakan langsung manfaatnya.
Dari sisi menu, kata dia, variasi makanan cukup beragam dan sejauh ini tidak menimbulkan persoalan berarti. “Kalau ada yang kurang atau menunya kurang sesuai, kami langsung sampaikan ke pengelola dapur. Sampai sekarang tidak ada masalah,” ujarnya.
Kesan serupa juga dirasakan di SDN 1 Peusing. Guru setempat, Heni Noviana, S.Pd., M.Pd, mengaku sempat terkejut ketika pertama kali melihat pengantar MBG turun dari mobil dengan mengenakan daster dan riasan mencolok. Namun keterkejutan itu segera berubah menjadi hiburan bagi siswa.
“Awalnya kami kaget. Tapi ternyata itu pengantar MBG. Anak-anak justru sangat antusias. Suasana jadi cair dan menyenangkan,” kata Heni.
Menurut dia, kreativitas semacam itu berdampak langsung pada mood siswa. Anak-anak lebih ceria, lebih bersemangat mengikuti kegiatan belajar, dan tidak canggung saat menerima makanan. Hal yang terlihat sepele, kata Heni, justru punya pengaruh besar terhadap iklim sekolah.
Selain memenuhi kebutuhan gizi untuk mendukung tumbuh kembang dan konsentrasi belajar, Program MBG dinilai berhasil menghadirkan pendekatan humanis dalam pelayanan publik. Inovasi kecil di lapangan menunjukkan bahwa program pemerintah tidak melulu soal distribusi logistik, tetapi juga soal empati dan kebahagiaan penerima manfaat.
“Alhamdulillah, selama ini makanan selalu habis. Kalau ada kendala, kami langsung sampaikan ke pengelola dapur,” tutur Heni.
Kisah daster emak-emak di balik Makan Bergizi Gratis ini menjadi potret bagaimana kreativitas di tingkat pelaksana dapat memperkaya makna sebuah program nasional. Di tangan para pengantar, makan gratis bukan hanya soal gizi, tetapi juga tentang senyum dan rasa aman bagi anak-anak di sekolah. (Ali)




