KUNINGAN — Di bawah langit mendung yang menggelayut di atas Lapangan Upacara Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan, akhir pekan lalu suasana tidak mencerminkan kelesuan akhir tahun. Sebaliknya, aroma optimisme justru menyeruak dalam agenda refleksi tahunan yang digelar otoritas pangan dan pertanian Kota Kuda tersebut.

Bagi Kepala Diskatan Kuningan, Wahyu Hidayah, tahun 2025 bukan sebatas deretan angka dalam laporan pertanggungjawaban. Ia menyebut tahun ini sebagai palagan ujian bagi sektor agraria. Mulai dari hantaman krisis iklim yang tak menentu hingga tuntutan digitalisasi layanan bagi para petani di pelosok desa.

“Refleksi ini bukan seremoni belaka. Ini adalah ruang konsolidasi. Kita tahu situasi lapangan tidak selalu ideal, namun profesionalisme tidak boleh tawar-menawar,” tegas Wahyu di hadapan ratusan pegawai, mulai dari penyuluh lapangan hingga jajaran struktural.

Kerja keras Diskatan sepanjang 12 bulan terakhir tampaknya tak sia-sia. Dalam catatan evaluasi akhir tahun, Diskatan Kuningan sukses memboyong sederet trofi bergengsi yang mengukuhkan posisi mereka di level regional. Pada ajang Anugerah Ketahanan Pangan Award Jawa Barat 2025, Kuningan menyabet gelar Harapan I untuk kategori Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Harapan II untuk Neraca Pangan Terbaik.

Prestasi paling mencolok justru lahir dari “tangan dingin” para pelaksana di lapangan. Nama Muhammad Iskhaq Juarsa keluar sebagai Juara I Penyuluh ASN Berprestasi tingkat Jawa Barat, disusul oleh BPP Kecamatan Cilimus yang merengkuh Juara II BPP Berprestasi. Tak hanya birokrasi, regenerasi petani pun menunjukkan taringnya melalui Wildan, petani muda asal Kuningan yang dinobatkan sebagai Juara I Regenerasi Petani Inovatif.

Wahyu sendiri tak luput dari radar apresiasi. Ia menerima penghargaan sebagai “Tokoh Tani Modern” dalam ajang IJTI Cirebon Raya Award 2025. Namun, bagi pria yang dikenal egaliter ini, tumpukan piagam itu hanyalah efek samping. “Penghargaan itu konsekuensi, bukan tujuan. Tujuan kita tetap memastikan piring masyarakat Kuningan tetap terisi dan kesejahteraan petani meningkat,” ujarnya.

Wahyu menyadari bahwa tahun 2026 akan membawa tantangan baru yang lebih kompleks. Visi “Kuningan MELESAT” (Maju, Empowering, Lestari, Agamis, dan Tangguh) menuntut Diskatan untuk lebih adaptif. Peran penyuluh pertanian dan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) disebutnya sebagai garda terdepan yang memegang peran vital dalam menghadapi ancaman hama dan fluktuasi harga komoditas.

Suasana refleksi yang dihadiri juga oleh anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) di bawah pimpinan Rika Farliani itu ditutup dengan makan bersama. Di balik meja panjang penuh hidangan lokal, sekat antara pimpinan dan staf lapangan sejenak luruh.

Bagi Diskatan Kuningan, menutup tahun dengan prestasi adalah cara terbaik untuk membayar kepercayaan publik. Namun, di balik selebrasi itu, ada pesan tersirat yang dibawa Wahyu ke meja makan, bahwa kedaulatan pangan tidak dibangun di atas podium penghargaan, melainkan di atas lumpur sawah dan keringat para pendamping petani yang setia menanti fajar di tahun depan. (ali)