KUNINGAN – Isu lingkungan kini tengah menjadi sorotan berbagai kalangan termasuk mahasiswa. Ketua Himpunan Mahasiswa Islam Kuningan, Muhammad Naufal Harits menyebut semua pihak harus punya perhatian penuh terhadap isu tersebut, termasuk pada aktivis keagamaan.

Menurutnya, pendekatan keagamaan menjadi salah satu cara penting dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian alam. Sebab, hampir seluruh ajaran agama mengajarkan manusia untuk merawat dan tidak merusak lingkungan

“Alam harus dijaga bersama karena keberlanjutannya sangat menentukan kehidupan generasi mendatang,” ujarnya usai menggelar diskusi Perspektif Ekoteologi: Keberlanjutan Alam di Kabupaten Kuningan, Jum’at (13/3/2026).

Hadir dalam diskusi itu, Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, Elfrida Nobelia selaku Pendeta Gereja Kristen Pasundan (GKP), Heri Purnama selaku Koordinator Presidium KAHMI Kuningan, Gumirat Barna Alam selaku penghayat Sunda Wiwitan, dan Dr. Iing Nasihin selaku Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan UNIKU.

Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Kuningan terus berupaya mendorong berbagai program yang berorientasi pada pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak, termasuk organisasi kemahasiswaan dan tokoh agama, sangat penting dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga kelestarian alam.

“Pemerintah tentu tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan kolaborasi dari seluruh elemen masyarakat agar upaya menjaga lingkungan dapat berjalan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Pendeta Elfrida Nobelia menyampaikan bahwa ajaran agama pada dasarnya mengandung nilai-nilai yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Menurutnya, manusia memiliki tanggung jawab moral untuk merawat bumi sebagai tempat hidup bersama.

Ia menuturkan, berbagai kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini tidak hanya menjadi persoalan ekologis, tetapi juga berkaitan dengan sikap dan perilaku manusia dalam memperlakukan alam.

Sementara itu, Heri Purnama menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, serta tokoh agama dalam menjaga kelestarian lingkungan. Menurutnya, Kabupaten Kuningan yang dikenal memiliki kekayaan alam dan kawasan konservasi harus dijaga bersama agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Hal senada juga disampaikan oleh Gumirat Barna Alam. Ia menilai bahwa hubungan manusia dengan alam tidak dapat dipisahkan, sehingga menjaga alam merupakan bagian dari bentuk penghormatan terhadap Sang Pencipta.

Adapun Dr. Iing Nasihin turut memaparkan pentingnya pendekatan ilmiah dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Ia mengingatkan bahwa berbagai persoalan lingkungan harus ditangani secara serius melalui kebijakan yang tepat serta kesadaran bersama dari masyarakat.

Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab antara para narasumber dengan peserta yang hadir. Dalam sesi tersebut, para peserta menyampaikan pandangan dan pertanyaan terkait berbagai persoalan lingkungan yang terjadi di Kabupaten Kuningan.

Sekretaris Majelis Darah Korps Alumni HMI (KAHMI) Kuningan, Arif Amarudin menuturkan bahwa persoalan lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.

Menurutnya, peran tokoh agama sangat penting dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari amanah yang harus dijaga bersama.

“Kesadaran menjaga lingkungan harus terus ditanamkan, baik melalui pendidikan, dakwah maupun kegiatan sosial kemasyarakatan. Dengan begitu, kepedulian terhadap alam dapat tumbuh dari tingkat individu hingga masyarakat luas,” katanya.(Icu)