Di hadapan siswa, Ika juga memperkenalkan fungsi dasar legislatif, legislasi, penganggaran, dan pengawasan sebagai cara memahami bagaimana kebijakan lahir dan diawasi. Dengan pendekatan yang komunikatif, ia berupaya menghapus kesan bahwa lembaga politik adalah dunia yang jauh dan tidak tersentuh generasi muda.
Ia mengingatkan bahwa praktik demokrasi dapat dimulai dari lingkungan sekolah. Pemilihan ketua OSIS, musyawarah kelas, hingga kegiatan organisasi siswa adalah ruang belajar untuk menghargai perbedaan, menyusun kesepakatan, dan bertanggung jawab atas keputusan bersama. Dari pengalaman sederhana ini, pelajar dapat memahami bahwa demokrasi bukan sekadar teori, melainkan kebiasaan yang dibangun melalui partisipasi aktif.
Kegiatan tersebut juga diperkuat oleh sesi motivasi dari praktisi muda Kang Imam yang menekankan pentingnya integritas dalam ruang digital. Ia mengajak siswa untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga penjaga etika komunikasi publik.
Melalui program ini, Ika berharap pelajar tidak hanya menjadi pemilih di masa depan, tetapi pelopor demokrasi digital yang sehat, generasi yang mampu berpikir kritis, bijak bermedia sosial, dan sadar bahwa setiap unggahan, komentar, dan pilihan informasi merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai warga negara. Dari ruang kelas di Kuningan, pesan itu mengalir: masa depan demokrasi Indonesia ditentukan oleh kualitas literasi digital generasi mudanya. (ali)
