
JATINANGOR — Di kancah olahraga nasional, Jawa Barat tidak hanya identik dengan dominasi di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON). Kini, provinsi dengan populasi terbesar di Indonesia ini kian mengukuhkan diri sebagai “pabrik” talenta futsal papan atas. Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, Dr. H. Buki Wibawa, M.Si., menyebut perkembangan futsal di wilayahnya telah mencapai titik konsistensi yang menjadikannya barometer tunggal bagi daerah lain di Indonesia.
Statistik terbaru yang dipaparkan Buki cukup mencengangkan. Dalam skuad Tim Nasional (Timnas) Futsal Indonesia pada ajang internasional terakhir, delapan orang pemain merupakan putra daerah Jawa Barat. Angka ini setara dengan 50 persen dari total komposisi pemain nasional. Sebuah dominasi yang menunjukkan bahwa kualitas pembinaan di akar rumput sudah sejajar dengan standar internasional.
Dalam kehadirannya di penutupan Proton Super Cup Pelajar Jawa Barat, Buki menekankan bahwa pencapaian ini bukan hasil kerja semalam. Ia menunjuk peran krusial klub-klub lokal seperti Proton FC yang konsisten menjaga ekosistem futsal di Jawa Barat tetap hidup.
“Futsal Jawa Barat berkembang luar biasa karena peran pengurus yang visioner dan keterlibatan klub-klub yang aktif melakukan pembinaan. Mereka tidak hanya mengejar trofi jangka pendek, tapi benar-benar menyiapkan regenerasi atlet,” ujar Buki.
Menurutnya, klub seperti Protokol FC telah menjadi tulang punggung pembinaan di tingkat akar rumput. Dengan rutin menyelenggarakan kompetisi, klub-klub ini memberikan jam terbang yang krusial bagi para pemain muda sebelum mereka ditarik ke level profesional maupun nasional.
Keberhasilan Timnas Futsal dalam melampaui target di berbagai ajang, termasuk SEA Games, menjadi momentum yang ingin ditangkap oleh DPRD Jawa Barat. Buki menilai prestasi tersebut patut mendapatkan apresiasi lebih dari sekadar pujian verbal. Ia menekankan pentingnya dukungan kebijakan dan anggaran yang berkelanjutan.
“Prestasinya sudah sangat bagus, bahkan melebihi target. Apalagi jika kita bicara konteks sebagai tuan rumah, tekanannya sangat tinggi,” katanya. Namun, Buki mengingatkan bahwa prestasi emas bisa bersifat sesaat jika tidak didukung oleh keberlanjutan kompetisi.
Sebagai Ketua DPRD, Buki menegaskan komitmen lembaganya untuk mendorong kebijakan anggaran yang mendukung pembinaan olahraga. Bagi DPRD, futsal bukan hanya permainan lima lawan lima di lapangan, melainkan bagian dari investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) Jawa Barat yang kompetitif.
Dengan tren positif ini, Jawa Barat kini memegang tanggung jawab besar sebagai pusat pengembangan futsal nasional. Tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga konsistensi pengiriman atlet ke Timnas sekaligus memperbaiki infrastruktur futsal di pelosok daerah Jawa Barat agar talenta baru terus bermunculan.
“DPRD akan terus mengawal agar denyut kompetisi di daerah tidak berhenti. Kita ingin Jawa Barat menjadi contoh bagi provinsi lain dalam hal pembinaan olahraga yang terstruktur dan berkelanjutan,” pungkas Buki Wibawa. (ali)





Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.