Selain berdampak pada pertanian, kekeringan memperlihatkan rapuhnya infrastruktur lingkungan di tingkat desa. Tidak adanya embung, sumur dalam, atau sistem penampungan air hujan menunjukkan bahwa upaya mitigasi belum menjadi prioritas pembangunan. Warga menilai, tanpa solusi jangka panjang, krisis air akan terus menjadi “kutukan tahunan” yang menggerus daya tahan desa.
Menanggapi keluhan tersebut, Ika mendorong pemetaan sumber air alternatif serta pembangunan infrastruktur penampungan air yang dapat dimanfaatkan saat musim kemarau. Ia juga menekankan pentingnya sinergi lintas dinas agar persoalan air tidak ditangani secara parsial.
“Ketersediaan air adalah fondasi ketahanan pangan. Jika desa tidak memiliki sistem yang mampu menjaga pasokan air, maka krisis ini akan terus berulang,” ujarnya.
Bagi warga Mayung, air bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi penentu masa depan desa. Tanpa langkah konkret untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air, setiap kemarau akan kembali membawa cerita yang sama: sawah mengering, penghasilan hilang, dan ketahanan pangan desa semakin rapuh di tengah perubahan iklim yang kian sulit diprediksi. (ali)
